SEPI
08.12 | Author: Unknown
Hari-hariku kan kembali sepi. Saat kau jauhi diri ini. Hati yang tlah tertata kembali terluka. Entah knapa engkau enggan bercerita. Luka ini kembali perih menganga.

Ku pernah kehilanganmu, tak ingin ku jauh darimu. Hati berharap tiap hari bertemu. Berjumpa kekasih hati yang terindu. Duhai hati yang kunanti, duhai kasih yang ku puji. Kepada siapa jiwa ini tertambat merana. Dalam penantian elok yang selalu kupupuk asa.

Walau perih, walau sedih. Ku akan tegar menanti tanpa letih. Walau penat, walau lemah tak bersemangat. Ku harap perjumpaan yang segera cepat. Rindu ini tlah tertumpah. Dalam masa lampau yg kuberserah. Kembali kini kuukir asa dalam pasrah. KepadaMu Tuhan dalam ridho arah.
Sent from BlackBerry® on 3
Ku Tetap Mencintaimu
23.39 | Author: Unknown
Pikirku buntu, akalku kaku. Tiada jalan yg mampu kuraba dan kuraih. Tiada arah yg kutuju, kecuali kan kujaga perasaanku kepadamu mutiaraku. Dalam keheningan malam ini kumengadu, saat kau ucapkan kalimat sabar atas dasar cintamu. Kan kujaga selalu, hingga saat kupersembahkan dalam suasana haru.

Oh cinta yg bersabar. Kan kuraih kesabaran dalam biduk duka. Menangis dan menyendiri hari. Dalam keramaian kurasakan sepi, dalam aroma wangi kurasakan getir. Seperti yg tlah lalu.. Ku kan menanti hingga kau haturkan hatimu Ɩ̲̣ɑ̤̥̈̊ƍɪ̣̲̣̇, :)


Sent from BlackBerry® on 3
Tak Mengerti
22.57 | Author: Unknown
Malam ini duniaku berhenti berputar. Kepalaku berkunang memar. Saat kudapati sedih nan pilunya kabar. Tanpa sebua cerita yang biasa tersiar. Duhai kasihku... Permata hatiku, ada apakah piluku berkelabu. Saat ku berjuang tuk tebus silap masa lalu. Saat kuberadu dengan jiwa yang tlah kuserahkan padamu.

Duhai permataku... Kekasih jiwaku, yg kelam kembali menggelayuti. Jiwaku kembali berkeping tiada tersisa diri. Tanpa penjelasan, kau lumpuhkan hati. Dalam debur angin yang membunuh diri.

Ingin kutinggalkan dunia malam ini. Berharap tak terbangun keesokan hari. Ingin kucampakkan semua asa dihati, tanpa dirimu kasih, semua tak berarti. Semua kembali sepi, semua kembali terurai dalam getir yg menjadi-jadi.

Tak Ɩ̲̣ɑ̤̥̈̊ƍɪ̣̲̣̇, kupercaya dunia yg telah menghinaku berjiwa. Tak Ɩ̲̣ɑ̤̥̈̊ƍɪ̣̲̣̇, kupercaya dunia yg tlah campakkanku cinta. Tak Ɩ̲̣ɑ̤̥̈̊ƍɪ̣̲̣̇, kupercaya dunia yg kubelajar padanya. Oh dunia yg melayang maya, demi dunia kan kutinggalkan dunia.
Sent from BlackBerry® on 3
Rindu Ini
22.28 | Author: Unknown

Kunikmati rindu ini, seujung batas dan seujung cerita. Walau keadaan menyiksa, kan kujadikan dunia penuh dengan warna. Kan kuwarnai dengan darah yang memerah, dan putih dari kulit yang pucat cerah. Walau keadaan tak bersuka, kan kunikmati rindu ini. Kuukir kenangan indah bersamamu, dalam kedamaian. Dalam percintaan, dalam sebuah irama fajar yang bertalu keceriaan. Demi cintaku yang tulus yang menantikanmu. Di ujung waktu, diujung batas cerita yang segera kan berganti dalam kerinduan.

Kunikmati cinta ini, dalam batas ujung cerita. Tlah kau miliki jiwa ini, dalam hati yang tiada berbekas rupa. Tlah kau miliki hati ini, dalam jiwa yang tiada berserok cita. Dalam penantian dan cerita pengembaraan ini kupasrahkan setetes darah mengiringi langkah untuk merahkan dunia. Tuk jadikan dunia hangat dalam bara yang telah ku nyalakan sejak pertama berjumpa. Duniaku kian terbakar, perih, tercabik, dan garang dalam bentuk yang tak lagi terjaga. Namun kuyakinkan bahwa hati ini telah kau miliki, semenjak ku tambatkan berjuta asa masa silam. Tak kan sirna maupun lekang di cabut masa.

Demi cinta yang terukir, demi harapan yang terpatri. Hariku penuh ceria dalam batas ujung surga. Dalam batas ujung surya. Bersamamu cinta yang telah hasratkan gelora yang membara. Kan kutemani pengembaraanmu, di ujung cerita bersama. Kini dan nanti, selamanya...
Manja dan Cinta
22.08 | Author: Unknown

Saat ini ku belajar tentangmu dengan ketulusan jiwa. Dengan keikhlasan dan keinginan untuk melayanimu kekasih tercinta. Bila banyak orang mencintai seseorang dengan kelebihan, kebaikan, dan bakatnya. Justru aku mencintaimu dengan ketiadaan. Kekurangan yang saat ini aku syukuri dengan berjuta harapan bersama. Kekurangan yang menjadikan semangatku untuk menggandeng tanganmu tuk tapaki hidup arungi dunia. Tiada pula ku mampu berbangga diri, bila tiada dirimu disisiku. Tiada pula ku mampu ungkapkan dunia, bila bayangmu tenggelam disudut kelam jiwa. Bagiku, tiada yang pantas kulakukan selain melayanimu. Menjadikanmu bagian dari hidupku yang kan terwarnai jua. Kekuranganmu adalah anugrahku dalam setiap batas masa. Kelebihanku adalah pelayananku dengan seluruh ketulusan jiwa.

Kekasihku, dalam lubuk hatiku yang terdalam. Tiada satupun kataku selain mengagumimu setelah masa kelam. Tiada satupun hasratku kecuali rindu kepadamu dalam bayang yang menyibak temaram. Tiada satupun yang terukir dalam bayangku, dalam anganku, dan impianku kecuali keindahan bersamamu sayang. Sayang maafkan aku, bila kerinduan ini berujung kepada kesalahan jiwa. Kesalahan kata, dan kesalahan rasa yang berhujung kepada duka di akhir senja.

Oh cintaku yang merindu.. kusiksa diri ini untuk kerinduan bersahaja, kerinduan merana, dan kepakuan senja. Kurebahkan jiwa dan kusematkan asmara dalam batas yang tiada seorangpun berani mengadu. Kepada jiwa yang berpasrah kepada Sang Pencipta. Kepada rindu yang tergerak oleh asmara qalbu. Maafkan aku yang merindukanmu, terombangkan dalam kerisauan jiwa yang tertunduk malu. Tergoncangkan dalam batas cinta yang kobarkan jiwa. Kan kujaga cinta ini dengan setulus hati. Karena ku tak mampu merasa, kecuali mencintaimu belahan jiwa.
GORES KATA
20.08 | Author: Unknown

Gores kata ini masih tercukupkan dengan segala yg kurasa. Gores tinta ini msh bnyk yg kan terungkapkan dengan suka. Gores crita ini msh kan ada seiring rinduku yg kian memuncak didada. Gores asa ini mengukir kenangan dengan dalam di lubuk irama dunia. Dalam kedamaian cerita yg kurasa, saat bersamamu memadu cinta.

Tlah kuukir bayangmu dlm sebuah kenangan yang tajam. Tlah brulang impian yg tlah lama kunantikan. Tlah kusingkirkan segala duka lampau yg trluka seram. Demi kesetiaanku yg tlah kuniatkan dlm harapan. Kepadamu kasih, tlah kuukir dlm hati terdalam. Walau perih, kunikmati sgalanya demi sbuah nama keabadian. Walau nyeri, kubiarkan luka ini menganga sbg tanda kesetiaan. Kasih, terukir dalam namamu di qalbu.

Sebuah crita yang kembali brulang. Ktika masa kembali terulang. Ketika rasa kmbali berjalan pelan. Ketika kenangan kembali teringatkan. Ketika bayangan kmbali trsiratkan. Ktika rasa kmbali trtumbuhkan. Ktika rindu kembali bergelayut qalbu. Dan ktika jiwaku tlah tertambat olehmu. Saat itulah, kupasrahkan padaNya tuk iringi langkah kita.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
PELUK HANGATMU
12.38 | Author: Unknown

Hari itu, dunia kan menjadi saksi. Ketika peluk hangatmu terasa di hati. Kecupan bibirmu lembut hapuskan rindu. Harum tubuhmu siratkan cinta yang selama ini kunanti. Kupasrahkan jiwa ini kepadamu kekasih hati. Ijinkan ku tebus segala kesalahan yang lalu. Ku kembalikan rindu ini kepadamu. Rengkuhlah aku dalam relung jiwamu.

Bertahun lamanya kutunggu perjumpaan. Dalam pelukan dan permintaan maaf yang kurindukan. Oh cinta yang tertunda. Mengapa waktu memainkan kita. Mengapa takdir mentertawakan cinta. Mungkin Tuhan inginkan kita menikmati perjumpaan ini. Bersyukur dan bermunajat dalam kenangan abadi. Terima kasih tuhan, telah mengembalikan ia dalam kehangatan. Dalam kenangan, yang perlahan kumengerti.

Tuhan.. kembalikan ia padaku, seperti saat ini yang kau ijinkan kami bertemu.
Tuhan... kembalikan ia padaku, seperti kau jaga perasaanku hingga kini.
Tuhan... dalam penantian ini, kan kujaga ia seperti kujaga cintanya. Dahulu, sekarang, dan nanti
PERJUMPAAN
12.16 | Author: Unknown

Hari ini perjumpaan denganmu. Sebuah sikap kuukirkan dalam ruang waktu. Begitu dalam dan hangat terasa hingga di tepian sukma. Bersamamu kasih kumemadu rasa. Demi cinta yang bersemi, demi cinta yang kembali. Kutitipkan sebuah harapan suci. Dalam biduk kehidupan tlah kuyakinkan segala harapan. Kugambarkan segala cita kepadaMu Tuhan. Kuhaturkan segalanya kepadamu kekasih impian.

Kucurahkan segala rasa, kuungkapkan segala gundah didada. Kuberadu dalam pelukan hangatmu, kecupan abadimu yang membekas dalam jiwaku. Tinggalkan noda yang tak kan pernah terlepas dalam bayanganku. Tinggalkan impian yang kian berkesan dalam relung hidupku. Guratkan perasaan yang tak kan berpisah kembali. Cintaku tumbuh sepanjang waktu. Detik kunikmati sebuah impian bersamamu. Begitu hangat dalam selimut tebal kehidupan. Kini dan nanti yang kan kita jelang bersama. Meniti kehidupan tuk sebuah harapan dan keyakinan.

Oh cinta yang terpisahkan jarak dan keadaan. Hatiku telah tercerabut dengan syahdu olehmu. Sebuah rasa yang tak kan pernah sirna selamanya. Sebuah cita yang kan selalu membara dalam keabadian. Sebuah harapan yang kini tumbuh kembali dalam kesyahduan. Diantara pengorbanan, harapan, dan keyakinan. Kujelang esok cinta, dengan suara merdumu. Dengan lembut mesramu. Dengan sayang manjamu. Bersamamu dalam pelukan erat kenangan. Kan kujaga rasa ini, hingga saatnya nanti. Kau ulurkan tanganmu, dan kuakhiri penantianku.
BAYANGANMU
12.02 | Author: Unknown
Kubuka mataku, tergambar jelas bayangmu. Walau terasa jauh, kurasakan kehadiran dalam setiap nafasku. Aroma tubuhmu masih tercium harum, walau saat ini kita belum bersatu. Semua kan jadi saksi, saat kita memadu kasih dalam keramaian kota. Dalam kegemerlapan suasana, yang terwarna ketika kau hasratkan cinta. Dalam biduk ku terdiam...

Kisah asmara yang berhujung kepada rindu yang merana. Saat kubuktikan cinta kepada nirwana dunia. Saat ku hasratkan rindu dalam warna qalbu. Ku mengadu, mengapa bukan saat itu kita bersatu. Oh cinta yang tertunda, yang berbataskan tembok rindu yang kian membahana. Kepada siapakah kuadukan cinta, ketika ku mengetahui arah muaranya. Kepada siapakah kualirkan rasa, ketika gejolak telah penuhi setiap air mata.

Ketika kau pelukku dengan nyata. Ku coba tumpahkan air mata. Dalam segala kerinduan, duka, dan suka. Dalam segala perasaan yang berujung kepada kesetiaan. Inilah diriku yang selalu menunggumu dibalik tembok batu. Yang kuukir namamu dalam hatiku. Walau pedih perih, kulakukan tuk tunjukkan kesetiaan perasaanku kepadamu. Demi cinta yang terluka, telah kau basuh dengan segala rasa dan asa. Kau singkirkan segala apa yang ditanya oleh dunia. Kini dan nanti dalam peraduan abadi dan cinta sejati. Demi cinta yang terlahirkan kembali, yang musnah hilang diterpa badai dan ilalang. Demi cinta yang terjerat oleh ruang dan waktu. Yang terbayang oleh mimpi buruk masa silam.
SULIT
22.23 | Author: Unknown
Sungguh mencintaimu terasa sulit. Bagaikan kisah berat yang terjerat
rumit. Angin sepoi yang kini berhembus dengan panas. Inginku tantang
dunia dengan tegas.

Oh cinta... Bila dunia halangi kita, kan kuruntuhkan ia dan menjadi
pilihannya. Kan kutantang dengan gagah gempita. Bagai ksatria yang
sambut cerita laga.

Mutiaraku... Sungguh tangisku akan kembali memecah dunia. Dunia kan
terancam oleh duka. Akan kutunggu berita dengan air mata. Akal dan
hatiku telah kuserahkan pada cinta. Ku akan bagai jiwa tak bersukma.

Oh cinta... Ijinkanku rengkuh sebuah crita. Yang kan kukenang dan
menjadi saksi nadi dunia. Bersamamu kukenang dan kurindukan jiwa.
Menjadi jawaban kembali saat kita bersua.
SEPI
20.32 | Author: Unknown
Duniaku terasa sepi, ketika tiada dirimu menemani hati. Dunia terasa
gelap, karena kata yang terucap silap. Dengan ujung cakrawala menyibak
derap. Semburat mega bersinar cemerlang. Sinari mutiaraku dengan
benderang.

Duniaku dalam paruh hari. Ketika kita bercanda dan bercerita.
Menjelang malam kan sirnakan masa. Menanti kembali hari dengan suka
dan cita. Menyambut pagi dengan sekuntum kata yang kugores dengan
rasa.

Memang aneh kurasa, bagai cinta separuh jiwa. Kuyakin kan genapkan
sukma. Tiada lagi hari yang menipu jiwa. Tiada lagi cinta berselimut
duka.

Cinta suci kan diridhoi. Tumbuh mekar dalam taman asmara hati. Bersatu
berpadu dalam nada melodi jiwa. Habiskan nafas dalam kebahagiaan
surga.
BIDADARI
23.42 | Author: Unknown

Tertumpuk segala rasa dan asa. Tertumpah segala angan dan cita. Diujung waktu yang telah kuselam selalu. Bersamamu kasih dalam penantian diri nan sejati. Inginku belai bayanganmu, walau terungkap segala gundah jiwa. Inginku peluk erat impianmu, janji, Dalam setiap pengabdian raga. Ketulusan cinta tlah gusarkan kabut senja. Kesucian jiwa tlah runtuhkan segala sesal nan dicipta.

Kasihku yang berbalut waktu, dalam penantian diri ku telah tata hati ini. Ku telah jalin sukma ini, dalam penantian diri yang kan berakhir hari. Menit dalam detik kujumpai dalam jalinan rindu yang sendu. Jam berdetak lambat, haripun bergoyang pelan. Ketika kumelihat rindu telah gemuruh di dada. Waktu yang kaburkan bayangmu, ketika ia cabut impian dalam kenestapaan cita.

Ketika ia guratkan ragu, siratkan bayangan abu. Antara cahaya dan kegelapan diri, tak sadari keadaan yang taklukkan pilu. Hatiku tergores saat itu, dan tuhanmu hilangkan impianku. Meski Ia tanamkan rindu yang selalu bergelayut di qalbu. Yang terbuka saatnya, ketika kau siap nyatakan cinta. Karena cinta yang tertawan waktu.

Tuhan.. ijinkan kami bersatu lagi, ijinkan ku tebus rindu ini. Ijinkan ku basuh luka ini. Bersama bidadari yang telah yakinkan hati. Ia tersenyum, begitu cantik dan rupawan diri. Ia gemulai, begitu indah dan hasratkan hati. Demi cinta kepadaMu Tuhan, inilah bidadariMu untukku. Yang telah kupilih semenjak waktu lalu.
CEMBURU
18.54 | Author: Unknown

Terkadang ku tak mengerti, kenapa rasa cemburu ini senantiasa gelayuti diri. Terkadang ku bingung sendu. Meski kau bukan milikku. Namun ku tetap setiap menantimu. Terkadang ku terheran, dengan sikap dan rasa cinta yang bersemi pun dalam penantian. Oh cinta yang menyiksaku dalam kesunyian dan perasaan. Roman telah berdayung pelan menuju harapan. Ayunku setia dalam biduk penantian. Ingin gapai tanganmu kasih dengan penuh kehangatan.

Kau bukan milikku, meski hatiku telah tertambat selalu. Tersandera oleh perasaan di awal waktu. Tergadaikan oleh waktu di ujung rindu. Terbuai oleh dunia yang menyilaukan qalbu. Demi cinta yang tergadaikan. Hatiku perih, ketika mutiaraku berserakan dalam derai ombak yang menerpa terjang. Dalam badai yang mengombang ambingkan biduk dalam kenestapaan yang hilang.

Oh ilalang, yang telah menjadi saksi di sudut hati ini. Yang bergerak riang diantara debu keadilan. Yang bergerak diam dalam kenestapaan, yang kian menyiksaku dalam ketiadaan. Memilikimu walau hanya dalam bayang. Menggapaimu dalam impian. Memelukmu dalam nafas kesetiaan. Oh cinta yang terlarang. Karena cinta yang terbungkus impian.

Waktu yang tidak adil, dunia yang kupandang jahil, dan manusia yang guratkan takdir. Haruskah kubuktikan flamboyan yang bersemi sejati. Haruskah kutunjukkan warna jingga yang tutupi hari. Dalam melodi surya di ufuk angkasa. Menari berpadu dalam sebuah nada impian. Bersamamu kasih, suatu saat nanti.



DIAM DAN BEKU
20.17 | Author: Unknown

Ku terperanjak, ketika rasa itu terungkapkan. Ku terheran dan senang, ketika kau ungkapkan sayang. Sungguh, tak kusangka besarnya rasa dan cinta telah sekejap sembuhkan luka. Dalam irama mesra, dalam bait romantisme cinta. Waktu seolah terdiam dan beku. Saksikan cinta yang terukir bersama.

Kecup bibirmu, membuat duniaku beku. Peluk mesramu, hangatkan sukmaku. Dalam keabadian kenangan yang kan kukenang selamanya. Dalam bait cinta yang kita jalin bersama. Cintaku berbunga, dalam suasana dunia yang berkelabu jingga. Rasaku bersemi, dalam gemuruh badai yang menanti. Tuhan, ijinkan ku rengguk cintanya sekali lagi. Menanti dalam melodi sejati. Kan kuiringi dalam bait puisi yang kan cerahkan diri.

Hari itu, jiwaku terbakar. Dalam suasana cinta yang merona. Dalam sukma cahaya yang berjaya. Kepada siapakah kugantungkan segurat cinta. Bila bukan kepadamu cinta, yang telah kunanti dalam bait doa. Hari itu, ragaku bergetar. Kau tantang dunia dan korbankan dunia. Dalam suasana cinta yang tulus, dalam nada rasa yang halus.

Cinta, ku kan kembali berjumpa. Ijinkanku tebus segala luka. Ijinkan ku kecup tanganmu dengan mesra. Dalam maaf dan penyesalan. Inginku hanya sayangimu selamanya.
AIR MATA
20.01 | Author: Unknown

Hari ini sungguhlah berbeda, ketika kembali kita berjumpa. Merajut kasih di antara manusia. Hari ini inginku curahkan rasa, inginku teguhkan jiwa. Kepadamu mutiara, yang telah kupilih diantara dunia. Kan kubasuh dengan mata air suci cinta yang abadi.

Senyummu, tawamu, dan candamu tlah mencerahkan hariku. Kasihmu, sayangmu, dan cintamu mewarnai jiwaku. Dalam bait kesunyian ku telah temukan harapan yang telah lama sirna musnah diantara jiwa yang terluka. Senyumanmu, sungguh mampu leraikan lukaku. Ketika tangisku membasahi dunia karenamu kekasihku. Kasih, perasaan ini sama, dan kan selalu sama. Kan kujaga rasa dalam bait flora jingga. Kan kujaga cinta dalam deburan badai dunia. Selamanya, menggapai cita bersama.

Tiba-tiba. Hatiku terluka kasih, ketika kau ucapkan kata. Ketika kau ragukan jiwa. Ketika kau abaikan rasa. Luka yang sama yang telah tergores berada dalam masa silam yang mencoba sirna. Luka itu kembali menganga, dalam keraguanmu dalam besarnya cintaku. Kuyakin, kau akan mengerti, dan tuhan kan tunjukkan diri. Sesiapa yang ragu terhadap rasa ini.

Sore itu, sungguh kelabu. Tak inginku tinggalkan duniamu. Dalam rengguk kasih yang tercampakkan dengan nila yang setitik. Hari ini, kuseolah tak berarti. Rindu dan sayangku seolah tak menjadi saksi. Bila ku disisimu kasih, kan kubasuh kata itu. Kan kulipur lara itu. Dalam kesejukan pelukan hangat, dan kecupan mesra. Bersamamu naungi nirwana gelap gulita. Tuhan, ijinkan ku bersatu. Tuk basuh air mata itu...
SEBUAH HARI
19.19 | Author: Unknown

Kubercerita tentang sebuah hari dimana rasa benci dan duka merudung didalam hati. Kubercerita tentang sebuah sifat dimana keji dan benci merasuki di dalam dada ini. Kubercerita tentang sebuah rasa dimana rasa sayang menutupi benci dan duka. Itulah hari dimana kutunjukkan cinta dalam nada yang berbeda. Hari dimana, sayangku dan cintaku kepadamu jauh melebihi benci dan dendammu kepadaku. Karena ketulusan hati dan jiwa yang telah bersemayam didadaku.

Ku tunjukkan ketika engkau membenciku, rasa sayangku tidaklah berubah. Ku tunjukkan ketika rasa marahmu, rasa sayangku tidaklah berbeda. Ku ajarkan kepadamu cinta, hakikat ketulusan rasa dalam jiwa. Menjadikan cinta mampu menutupi segala luka, amarah dan duka. Ingin kureguk seluruh dukamu, lukamu, dan amarah di waktu itu.

Saat itulah, engkau akan mengerti hakikat cinta sebenarnya. Dimana pengabdian dan pelayanan menjadi dasarku untuk memahami jiwa. Dimana rasa sayang dan cinta telah menghujam didalam dada. Kemarin, saat ini, dan saatnya nanti kita kan berjua.

Kasih.. maafkan aku, ketika engkau tak memahami. Maafkan aku, ketika ku pilih cara ini. Karena mungkin dengan inilah kutunjukkan betapa besar rasaku kepadamu.
RENGKUH AROMAMU
04.34 | Author: Unknown

Hari ini badai menerpaku dengan begitu lembut. Suasana alam yang sejuk semerbak menampakkan dirinya setelah ia reda. Aku yakini suasana yang hangat setelah surya terpancar.. Yang begitu indah pada akhirnya. Oh Cinta yang senantiasa kurindukan. Kepada Tuhanlah kupasrahkan pengharapan. Oh Cinta yang senantiasa kujaga. Dalam relung sanubari hangatkan jiwa.

Cinta.. Betapa ingin kuberada disisimu, tumpahkan gundah dan resah. Inginku kan temani bersamamu, hilangkan susah dan amarah. Hanya kubisa belai bayangmu, kurengkuh aromamu yang masih terasa dan kujaga, dan ku kecup impianmu. Oh Cinta yang terhambat masa. Oh Cinta yang terbatasi suasana.

Ku berharap ini segera berakhir. Agar cinta kita dapat segera terukir. Jalani sisa hidup bersamamu. bersatu dalam sebuah suasana syahdu. Dalam keridhoannya kita bersatu padu. Oh Cinta.. yang kan kupupuk dalam kesetiaan. Yang kan kujaga dalam nafas kehidupan. Suatu saat kan kujelang, bersamamu kita kan arungi kehidupan terang.

Masih terasa kuat aroma tubuhmu, ketika kita bersua. Masih terasa kuat belaian tanganmu, ketika kita arungi bahagia. Walau sesaat, walau sekejap. Telah kuukir bayangmu kuat dalam hati yang kan terus melekat. Walau sementara, kuyakinkan ketulusan cintamu yang selama ini tertunda. Hingga sebuah kebahagiaan yang kan kita jelang bersama
SERAHKAN
23.48 | Author: Unknown

Usah kau khawatir, usah kau getir
Segalanya pasti akan berakhir
Yakinlah, suatu ketika kan berlalu juga
KepadaNyalah kita serahkan segala rupa

Mutiaraku...
Tetaplah cemerlang selalu
Tetaplah menjadi terbaik bagi duniamu
Ku akan pegang janji ini, sumpah ini, dan setia ini
Hingga ajal menanti kan kubina diri

Mutiaraku...
Inginkan ku, kau tersenyum
Iringi langkahku dalam semerbak harum
Ku akan kembali ke sisimu
Dalam masa yang kau tunggu

Mutiaraku...
Tetaplah mekar dalam kerinduan tuhan
Tetaplah bersemi dalam harmonisasi diri
Mewarnai hari dengan penuh semangat tinggi
Nantikan ku di sudut sunyi

Warna kembali bersemi di sudut hatiku
Tuk iringi langkah tuk jatikan diri
Melodi rindu tlah tapaki sendu dengan penuh haru
Ingin segera ku berteman hidupmu tuk satukan hati

Wahai Sang Pecinta sejati
Akhirilah ujian ini dengan kemuliaan suci
Perindahlah hidup ini dengan cinta hakiki
Selamatkanlah kami dari fitnah keji
Dalam semerbak mekar kasturi


MUTIARA CERAH
22.19 | Author: Unknown

Mutiaraku kembali berkilau cerah
Seusai semalam ku terbuai dalam resah
Mutiaraku telah mengungkapkan tujuannya
Tuk uji pemilik raga, jiwa kesetiaan

Oh cinta yang bergejolak
Seluruh hasrat tertumpah riak
Maafkan atas akalku yang memburu
...
Butakan cinta yang terpenuhi rindu

Mutiaraku benar telah terang bersinar
Kuyakin karena suara telah kudengar
Ia lamunkan cita yang bersejuk mega
Berharap Tuhan tuk tuntun bersama

Mutiaraku telah campakkan dunia
Menantiku dalam kesetiian nirwana
Mutiaraku telah tunjukkan cahaya
Dalam batas kerinduan yang memuncak rasa

Ia tenangkanku, dalam badai rindu
Ia belaiku, dalam ketulusan qalbu
Beriak ombak, pupus dalam kedamaian
Bergolak badai, sirna dalam keyakinan

Mutiaraku, maafkan aku yg salah menilai
Gemuruh badai telah jadikanku lalai
Ijinkan ku tapaki sumpah ini
Dalam biduk yang tetap kunanti

KISAH SEBUTIR MUTIARA
22.15 | Author: Unknown

Didunia ini, ada manusia yg diibaratkan bagaikan sebutir mutiara. Mutiara tetaplah mutiara, walau terendam di dalam lumpur hina dengan begitu lama. Mutiara itu menunggu tangan-tangan ajaib yang penuh keikhlasan dan ketulusan untuk mengangkatnya dari kubangan lumpur, dan mengusapnya, menggosoknya hingga menjadi mutiara yang bersinar cemerlang.

Di dunia ini pula, ada manusia ...
yg diibaratkan tangan ajaib yang menyelamatkan mutiara tersebut. Setelah mutiara itu terangkat, tangan ajaib itu akan mengusapnya dari segala lumpur yang melekat. Dengan sisa lumpur yang masih melekat sedikit di tangan. Perlahan muiara itu menjadi cemerlang. Meski tangan itu telah terbakar dan terhina dalam lumpur.

Namun, tangan itu mengangkat mutiara bukanlah untuk membuangnya. Atau mencampakkannya, atau menghinakannya. Namun mengangkatnya untuk disimpan dan dijaga. Diperlihatkan kepada dunia. Dan tangan itu mengetahui dengan yakin dan pasti sejak awal bahwa gumpalan yang terendam lumpur itu adalah mutiara.

Apakah tangan yang terendam lumpur akan disalahkan? ketika dia berkorban untuk selamatkan mutiara yang terendam itu...

Sungguh tangan yang terendam itu telah berjasa. Namun ia sekarang menjadi merana, terhina, dan tercela. Mutiara itu menyalahkan tangan yang terendam dalam lumpur dunia. Tanpa berusaha melihat jiwa dan raga pemilik tangan itu. Yang mengambil mutiara dari kubangan lumpur dengan tulus ikhlas dan penuh harap rasa.

Ketika manusia memandang gumpalan itu sebagai kotoran tak berharga. Jiwa itu melihatnya sebagai sebutir mutiara. Ia rela ulurkan tangannya ke dalam lumpur, dan mengambil dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah mutiara. Ternyata keyakinan itu benar... Mutiara itu telah fahami dirinya adalah mutiara. Bahkan mutiara terpilih yang terangkat dari lumpur. Namun...

Sungguh... Aku tak kuasa meneruskan kata-kata itu... Biarlah tangan itu terhina, hanya Tuhan Yang Ketahui segalanya.. Ia tulus ikhlas demi mutiara yang bersinar cemerlang. Namun kini mutiara itu tinggalkan jiwanya, belum terangkai menjadi untaian mutiara yang paling berharga di dunia. Manusia tidak akan pernah memaki mutiara yang telah tumbuh cemerlang. Namun akan melihat betapa hina tangan yang telah ternodai lumpur dunia.

Jiwa itu cuma berharap dan yakin. Gumpalan itu tidak hanya menjadi mutiara yang bersinar. Namun akan terangkai dalam untaian kalung kehidupan yang terindah yang pernah ada.

Suatu saat, mutiara itu akan mengerti... bahwa pemilik jiwa dan raga telah berkorban. Telah kehilangan tangannya hanya untuk menyelamatkan sebutir mutiara yang terendam...Tangan itu tidak mungkin dapat ia kembalikan. Karena ia telah rusak dan binasa. Jiwa itu akan bahagia bila mutiara itu telah sadari jatidirinya.
KELABU
22.12 | Author: Unknown

Malam ini udara dingin menusuk bertalu-talu
Malamku kelabu tiada sapa tersisa sendu
Kembali kau tinggalkan aku
Seperti irama syahdu beberapa tahun lalu

Hati remuk terperih pedih
Namun ku akan tetap menunggumu kasih
Ku akan tegar bersikap memandang dunia
Nantikan engkau di ujung masa

Seperti tersirat dalam mimpimu
Ku akan tersenyum memandang rindu
Di kejauhan pastikan kau bahagia
Kan ku kubur kenangan bersama

Ijinkanku tetap menunggu
Ijinkanku tetap mencintaimu
Ijinkanku melihatmu bahagia
kembali kau tidak disisiku

Oh cinta yang pedih
ketika patah kembali terukir perih
Oh rindu yang terpatri
Hidupku kembali sirnakan melodi
KU TERLALU MENCINTAIMU
19.28 | Author: Unknown

Maafkan cinta, ku terlalu mencintaimu.
Hari ini entah kenapa, hariku dirudung duka. Mungkin karena rasa yang telah memuncak didada. Atau karena ada yang tidak menginginkan kita bersama. Ataupun karena hariku kembali sepi tanpa kekasih jiwa. Oh Cinta, ku akan menunggumu. Dengan perlahan dan terseok, dalam peraduan perih dan pedih. Ku akan menjagamu. Dengan berlalu dan berliku, dalam pengembaraan jiwa nan istimewa. Oh cinta. yang membuatku terpaku dalam hidup dan kenikmatan rasa.

Sungguh tak inginku meninggalkanmu. Walau badai berjelang, walau mentari tak bersinar. Ku akan menjagamu selalu. Bukanlah kecantikan yang semu yang terlukis dalam bait dunia. Ataupun kelembutan ragu yang terpancar dalam nada fana. Ku hanya mencari hati yang telah tercuri dalam kenangan lalu yang menyapaku kembali.

Tersayat hatiku dalam kebekuan haru biru. Tergores rasaku dalam keperihan sendu. Demi Cinta yang menggelora. Ku rasakan jiwa ini risau dan galau. Ketika kita tiada bersama. Ku rasakan cinta ini lenyap, ketika kita tiada bersua. Oh cinta, yang kembali terhujam. Teringatkanku kepada tujuan. Terbayangku kepada lamunan. Demi cinta yang abadi.

Beribu jalan telah kita lewati. Beribu impian telah kudaki kembali. Tak inginku melihat engkau menderita cinta bersama jiwa yang mencintai dunia. Tak inginku melihat engkau bahagia, dalam kesemuan sementara. Ketika dunia telah ku gadai, dalam seonggok harapan masa depan di nirwana yang kekal selamanya.
SUDUT DUNIA
23.23 | Author: Unknown

Senyum bahagia kulihat pada harimu, seiring dengan gemuruh hujan yang membasahi bumi. Kuhaturkan sebuah kalimat rindu yang bertalu di akhir surya. Bertabuhku untuk iringi kebahagianmu. Oh cinta yang menggoda gelora. Berserak hati disaat duka dilipat senja. Hati kita kini berpadu lembut nan syahdu. Jelang esok bersama meniti relung jiwa.

Kasih, tunggu aku disudut dunia. Ketika warna kuukirkan dalam gurat dada. Dalam keabadian sukma di puncak semesta. Bagai mega di ufuk senja, kan kujadikan harimu bahagia. Duhai mutiaraku yang bersinar cemerlang. Tetaplah bersinar, hingga matahari terbit dengan gemilang. Tetaplah bercahaya, disaat manusia bersuka riang. Kepadamu kekasih.. Kan kujaga perasaan ini, walau risau dan galau kuasai diri. Yakinku bahwa rasa kini telah membumbug abadi.

Mutiaraku.. inginku peluk dirimu. Dalam dinginnya udara malam yang bersayup merdu. Saat mesra yang tak kan bertahan lama. Menanti dirimu disisiku cinta. Bersatu raga kita, bergandeng asmara senja. Di ufuk penantian, ku kan bertahan demi sebuah keabadian cinta dan rasa.

Kubayangkan kupeluk dirimu dalam keabadian. Temanimu dalam ikatan penuh kasih sayang. Jelang malam bersama, dalam biduk suka cita. Jalin jemari bersama lantunan simfoni hati. Dalam biduk cinta kita kan memadu hari. Dalam denyut jiwa, kita kan tuntaskan rasa. Oh cinta yang menggelora, jadikanku bergelayut rindu tanpa ujung cerita. Oh rindu yang menggoda, inginku tumpahkan rasa bersama.

Kekasihku.. temani aku malam ini. Halau risau, singkirkan galau. Sesak menyelimuti hati nurani, tanpa kehadiranmu rindu. Rasa ini menyiksaku malam ini, kungin peluk dirimu dalam keabadian. Pasrah bernafaskan asmara menggema di dada. Tak inginku lepas dirimu, walau dalam mimpi.
GADAIKAN CINTA
23.07 | Author: Unknown

Ketika kugadaikan cinta. ditiap penghujung hari, ingin kutemani mutiara dalam kepenatan raga. Ingin kubasuh pikirmu dengan kehangatan sukma. Ingin kubelai tubuhmu dengan sentuhan rindu. Kasih, yang terpisahkan oleh jarak dan masa. Hingga dipenghujung senja, ingin kutapaki hariku bersamanya. Oh cinta yang terlarang... Hingga dimanakah ujung crita ini terangkai indah.Dalam bait yang ku tak ketahui di mana kan berakhir. Aku yakin Tuhan kan pilihkan jalan buat bersinar. Di akhir senja ku ucapkan cinta.

Wahai semesta yang mensiratkan rasa, kepada siapakah kuhaturkan rasa. Kepada siapakah kupasrahkan jiwa. Kepada siapakah kunanti jawabannya. Di ujung senja, kembali ku terpaku dalam sebuah harapan rindu. Dalam bait inilah ku menghba, kepada pemilik semesta.

Ingin kubisikkan kalimat rindu dalam setiap waktu. Di saat surya tenggelamkan raga. Di saat angin malam bertiup seram. Kan kujadikan cinta ini sebagai tebusan. Bagiku, dan cinta kita. Kuhaturkan pula setetes kehangatan rasa dan jiwa yang bersatu di alam biru. Kunantikan saat kau sedia. Bersatu padu, dalam sebuah janji abadi yang senantiasa kita nanti.

Esok pasti akan tiba cinta. Ketika rindu ini kupupuk dengan segala rasa. Ketika cinta ini kujaga selamanya. Untukmu cinta, muiaraku dunia. Bersinarlah cemerlang, gapailah harapan. Bersinarlah dalam cahaya iman, gapailah citamu dan tujuan.
MERINDUKANMU
22.59 | Author: Unknown

Ketika kau larang aku, merindukanmu.
Duniaku bergemuruh riuh berkelabu.
Ketika kau larang aku, menyapamu.
Duniaku runtuh warna menjadi sendu.

Wahai cinta yang kini bergelora.
Janganlah kau memintaku, untuk menjauhi raga dan jiwa.
Namun ku kan menjagamu, hingga sampai masa.
Demi cinta suci yang mengantarku dalam keabadian rasa
Disinilah kubersemayamkan jiwa rindu tuk bersua

Wahai rindu yang bergetar.
Warnai duniaku dengan suluk cinta segar
Warnai langitku dengan hakikat rindu terpancar
Dalam bidukku yang berlabuh dalam ruang samar
Bersamamu cinta, mutiara yang kan selalu bersinar

Cinta ini kuucapkan dari relung sanubari.
Kutapaki hari yang datang silih berganti
Menanti sebuah ketagasan jiwa dan hati
Tuk rengkuh kita bersama gapai cinta suci

Duhai Tuhan yang semayamkan cinta
Kau siksa aku dengan gejolak jiwa
Kan kujaga rindu asmara yang memuncak di dada
Hingga saatnya kau restui kami selamanya.


GELAYUT RINDU
19.50 | Author: Unknown

Rindu ini begitu bergelayut, laksana awan di ufuk cakrawala. Ketika kuucapkan kalimat perpisahan kepada kekasih hati. Tak inginku lepaskan pelukan itu. Hangat, terasa, memuncak dalam jiwa. Tulus dan suci nampakkan cinta yang abadi. Walau perih, kupasrahkan kepada Tuhan. Tuhan, ijinku rengkuh jiwa sucinya.

Ku kan menanti, esok kita kan berjumpa kembali. Dalam bait warna yang telah hasratkan asa. Kepada kekasih hati yang kusebut dalam tiap bait doa. Kita kan kembali bersua, kembali ukirkan warna dalam dunia. Wahai dunia, bersaksilah atas cinta kita. Menyerulah kepada Pemilik Cinta. Agar kita segera bersama, dalam ikatan suci yang didamba.

Ternyata, Tuhan masih inginkan kita bersama. Roda berjalan, ketika dunia tinggalkan kami berdua. Kembali kami tersenyum atas cinta ini. Tuhan masih inginkan kita bersama, walau sementara. Kan ku hantar cinta kembali bersama harapan semesta. Rengkuhku dalam kedua jemarinya, kita bersatu mainkan melodi irama. Dalam sepotong roti yang kan menjadi saksi. Ketulusan cintamu kan kujaga selalu.

Wahai pemilik Cinta, inginku habiskan hari bersamanya. Dalam hangat sepotong cinta, bersemaikan hujan yang membahana. Dingin ini tak terasa, ketika ku pandangi ketulusan jiwanya. Hujan ini hangat membara, ketika senyum lebar hiasi dunia. Kasih... hangatnya cintamu, membuat duniaku terpaku. Ingin ku bersamamu, abadi dalam setiap nafas rindu.
HARMONI
19.10 | Author: Unknown

Harmoni kan menjadi saksi
Ketika sepasang pecinta dirudung suka
Menapaki jalan ibukota ditengah duka
Dalam penantian kita kan selalu bersama

Oh jiwa yang kini bersemi kembali
Kepada jiwa yang kini kunanti
Yakinlah kupasti akan datang lagi
Mutiaraku bersinarlah dengan terang abadi

Tak kan ku biarkan mutiara redupkan cahaya
Tak kan ku biarkan jiwa hilangkan asmara
Kepada Sang Pemilik Cinta kupanjatkan doa
Semoga kita kan bersama segera

Wahai Jiwa pemberani...
Berkilaulah bersama mutiara hati
Bangkitlah dan serulah harapan dan impian jiwa
Menuju masa depan yang dicita

Jiwaku terkurung dalam bait rindu
Menanti kan irama sejati dalam harapan qalbu
Duniaku terpaku dalam cinta suci
Meniti jalan bersama kekasih hati
BELAI TANGAN
19.03 | Author: Unknown

Hari ini hariku bahagia
Bersama kekasih yang tercinta
Hari ini kubelai tanganmu dengan manja
ku haturkan cinta dengan ketulusan jiwa

Hari ini, langit menjadi saksi
ketika cinta kita bersemi kembali
Hari ini, kulabuhkan cinta suci
Kepada mutiaraku yang tlah berserah diri

Oh dinda, kunanti jawaban dunia
ketika dihadapkan kepada situasi yang lara
Oh Cinta, kumenanti keberanian jiwa
ketika dihadapkan kepada cita yang tertunda

Ketika waktu tak lagi berkompromi
Ketika dunia tak lagi tunjukkan jalan
Saat itulah ku akan datang dengan gagah berani
Kan kuterjang dan kulawan dengan kehadiran

Mutiaraku, penyejuk jiwa
rindu ini begitu bergelayut mesra
Menantiku dalam sebuah jawaban asmara
Dalam kepastian menanti bersama tuk berjumpa
PUNCAK
15.31 | Author: Unknown

Barisan pepohonan kan menjadi saksi
Udara dingin menyejukkan hati
Disaat kuhadirkan jiwa dalam bait suci
Bersamamu kekasih di ujung penantian hari

Kuyakin cinta ini tidak lah semu
Kuyakin cinta kita kan segera bersatu
Kuyakin segala aral kan kita seru
Berpadu dalam sebuah ikatan qalbu

Puncak... di awal pekan ini
beribu diam, namun kan menjadi saksi
Hamparan kesejukan, mewarnai hati
Kita berpadu dalam sebuah ikatan janji
TAK DAPAT TERPEJAM
15.10 | Author: Unknown

Malam ini mataku tak dapat terpejam
Kulamunkan sebuah harapan
Yang kujaga dalam keyakinan

Walau badan penat, pikirku terbang melayang berat
Walau jiwa berkecamuk remuk, hatiku erat dalam kerinduan.

Maafkan aku sayang, dalam tidurku, kuyakin impian kujelang.
Dalam hidupku, kan ku jaga semua harapan.
Cinta dan kasih yang dalam besar keyakinan.

Sayang, maafkan aku.
Tak dapat kuhidup tanpa senyuman, yang membuat hidupku bercahaya.
Tak dapat kubahagia tanpa canda tawa, yang kan membuat hidupku terwarna.
Cinta, diujung harapan.

Dalam kesetiaan, kujaga janji ini.
Dalam keabadian, kuyakin jalan ini.
Dalam harapan, kuyakin cinta ini.
Tak kan berdusta, di ujung masa.
Tak kan kuingkari, dalam cinta suci.

Maafkan aku, kutetap mencintaimu dalam kesetiaan.
Maafkan aku, cintaku tak kan pudarkan keyakinan.
Walau amarah, kukan basuh dengan ketulusan cinta.
Cinta dan harapan yang kin i tumbuh dalam nada keabadian.
GETAR JIWA
05.12 | Author: Unknown

Perih kurasakan dalam getar jiwa. Ketika sang surya belum nampakkan sinarnya. Mataku tak bisa terpejam teringat dengan lamunan. Kurasakan gundah, perih dan duka. Risaukan kepada pemilik cinta ada apa dengan dirinya. Ku pandangi jejak jiwa ini dalam setiap sudut-sudut jiwa. Ingin kulerai duka lara yang kian perih, menjerit, hingga ia berjalan tertatih. Namun ku tak kuasa, hanya bersenjatakan kata-kata. Lepaskanlah ia, tuk gapai kebahagiaannya.

Demi jiwa yang telah lara, demi kebahagiaannya yang kini sirna. Tak inginkah engkau melihatnya bahagia. Tak sudikah engkau memberikan hasratnya. Demi waktu yang senantiasa membisu. Terpaku, erat dalam relung kalbu. Ia menderita, demikian pula dengan jiwanya yang terluka.

Demi jiwa yang kian menderita. Tak inginku melihat air mata. Bergelayut di wajah sendu yang kian suram tiada cahaya. Tak sudiku melihat perih lirih di hatinya yang suci. Dunia tak pantas menjadikannya lara. Cinta tak semestinya menjadikannya menderita, terpaku dalam sudut waktu yang senantiasa membeku.

Wahai surya... Lepaskanlah ia menuju kebahagiannya. Sinarilah ia dengan kebahagiaan tuk hapus segala lara. Bersama bulan yang dapat menuntunnya, walau tertatih, lirih merengkuh di ujung masa. Walau perih, inilah jalan yang abadi menuju kebahagiaan sejati, bersama waktu yang kian menanti.

Wahai surya.. janganlah engkau membuatnya binasa. Dengan sinarmu yang seharusnya melindungi. Dengan cerahmu yang ternyata membakar diri yang suci. Tegaplah, dan tegaklah sebagai seorang perwira yang memberikan cinta kepada sang pemilik hati. Reduplah... dalam kedamaian senja di ufuk dunia.
LERAI LUKA
18.28 | Author: Unknown

Kurasakan rasa gundah itu, kurasakan rasa lelah itu.
Sendiri, ingin ku memaki diri ini.
Ingin kucabik waktu yang telah menghalangi.
Ingin kuremuk segala resah didada, tuk melihatmu bahagia selamanya.

Kasihku, inginku membelaimu tuk lerai luka dan hatimu.
Inginku angkat beban itu, tak inginku melihat engkau sedih dan perih.

Ijinkan ku rengkuh tanganmu, menghiba, dan berpasrah kepada Sang Pencipta.
Harapku lerai air matamu yang suci. Untuk hidupmu yang bahagia.

Kasih...
Tak ingin ku melihat engkau menangis.
Tangismu tak pantas menetesi dunia.
Karena dunia membutuhkan senyumanmu.
Karena engkaulah warna dari dunia.
Duniaku dan masa depan kita.

Kasih...
Senyumlah... Dan bersukalah...
Setiaku tuk menunggumu, menantimu, hingga tiba saatnya.
Inginku rengkuh, dan basuh segala gundah dan resah
Kasih... nantikanku dengan penuh suka cita.
HAWA SEJUK
16.59 | Author: Unknown

Hawa sejuk bertiup lembut. Ketika langit telah merekah merah. Ku katupkan tanganku tuk menghiba pasrah. Kepada Sang Pencipta ku berserah, segala doa harapanan yang kini bersambut. Kurasakan hawa itu begitu lembut menyapaku. Membangunkanku dalam tidur panjang yang memilukan qalbu. Kuhadirkan tiap mimpi diharibaan Tuhan. Kepadanyalah seluruh harapan dan tujuan.

Kupandangi petang ini, seberkas cahaya putih menggores mega. Secercah harapan nampak nyata dalam setiap cerita. Sebait cerita menuntunku dalam sebuah harapan senja. Bersama, menggapai nirwana dengan kekasih nan dicinta. Tiap harapan kan menuntut cita menuju keabadian kenyataan. Bagiku, hasratku, dan bayangku telah menggapai ujung senja. Citaku, harapanku, dan impianku telah mengguncang dunia.

Oh Cinta... kan kupersembahkan warna dalam setiap cerita. Kan kuukir cerita dalam setiap masa. Kan ku jelang masa dalam setiap cinta. Kepada cintalah kupesembahkan dunia. Bersamamu, Tuhan, dan cita-cita yang telah kuukir sejak pertama berjumpa. Kasihku... Ku telah kuatkan tekad, sambutlah tanganku.
KALIMAT RINDU
05.05 | Author: Unknown
Kupersembahkan sebait kalimat rindu, bagi jiwa yang terluka. Kupersembahkan sentuhan qalbu, bagi hati yang tergores pilu. Kupersembahkan sebaris hasrat menggebu, untuk bertemu denganmu. Duhai kasih yang kunantikan, demi rindu yang menggelora. Duhai kasih yang tersematkan, demi rasa yang tersiratkan.

Sinar temaram kembali bersemayam. Di lupuk hatimu yang terdalam. Kuingin bisikkan r
asa cinta disepanjang malam. Walau kini keadaan sungguh sangat menyayat, walau hati terluka. Kungin kembali saksikan dirimu bahagia. Wahai jiwa yang resah, cukuplah diriku berserah. Wahai jiwa yang menantikan, kan kujadikan jiwamu bersinar terang.

Kekasihku... apakah engkau ragu? ketika telah kusematkan hatiku dengan pilu. Apakah engkau ragu? ketika mimpi telah tersingkap rindu. Apakah engkau ragu? ketika kupupuk harapan dengan kesetiaan. Ku ingin rengkuh kembali jiwa yang berserak biru. Perih dan sedih, menjadi warna nan abadi.
Purnama Redup
04.55 | Author: Unknown
Pagi ini, purnama nampak redup. Udara dingin begitu menusuk. Angin pagi menyapaku dengan lembut. Rombongan pedagang pasar hilir mudik kian merasuk. Kusapa kasihku pagi ini. Selamat pagi, hati... Kukecup dahi dalam lamunan diri. Kupeluk hangat dalam kedalaman sanubari. Walau semua dalam angan dan mimpi.

Cinta, kutak pernah ragu akan cintamu. Yang kan kusambut dengan tulus cintaku. Kutak pernah risau dengan sendu, kan kubasuh dengan bahagia dan haru. Kutak pernah kan pergi meninggalkanmu, ku kan menanti setia disisimu. Demi cinta abadi yang kan kujaga slalu.Rindu ini telah memuncak abadi. Siap kukan menemani menggapai surga tertinggi. Sayang ini telah memecahkan relung-relung hati. Siap kukan basuh bersimpuh di halapan pemilik jiwa suci.

Oh Indahnya pagi ini, melihatmu bahagia ceria. Dalam semangat dan untaian doa, kan kulantunkan dalam segala masa. Demimu cinta, ketulusan hati dan jiwa. Kuhanya berharap dirimu selalu bahagia, selamanya...

Tuhan, ijinkan ku basuh lukanya....
Biduk Abadi
11.27 | Author: Unknown

Kadang ku mentertawakan jalan ini. Kadang ku memaki diri ini. Ketika cinta dahulu bersemi, kita tidak diijinkan tuk arungi. Ketika cinta kembali besemai kini, waktu dan keadaan telah menghalangi. Namun cintaku tulus dan suci. Nan kujaga dalam biduk nan abadi.

Kasih... kumemilihmu bukan karena kelebihanmu. Kumencintaimu dengan kekuranganmu. Ingin kujadikan titian kesempurnaan. Ingin kulukis kenangan dalam ketiadaan. Ingin kurenguh jiwa malang dengan kasih sayang. Kumenyayangimu, dari sisi yang tiadapun yang mengetahui. Dari segala rasa dan sifat. Dari segala benak dan hati. Kutulis cintamu, terukir dalam benak. Tersemai dalam hati. Terpatri dalam jiwa ini.

Apakah benar rasa ini. Apakah benar sayang ini. Saat kau ada, kutiada. Saat kita bersama, jalan belumlah terbuka. Sayang, kuingin memilikimu seutuhnya. Entah bagaima caranya, Tuhan kan tuntun kita. Namun, yakinlah... kita kan bersama, selamanya.

Saat rinduku membuncak, bayanganmu hadir tuk mengobati. Saat sendu ku beradu, mimpi indah bersamamu kan melerai sunyi. Kasih, ingin ku renguh jiwamu. Ingin ku peluk dirimu. Tumpahkan rasa, bersamamu...
Hari Minggu
10.23 | Author: Unknown

Hari Minggu untuk kebanyakan kekasih adalah hari yang dirindu. Tapi tidak dengan duniaku. Hari Minggu adalah hari yang begitu sendu. Banyak hal yang tidak bisa kita lewatkan, banyak hal yang tidak bisa kita ceritakan. Banyak hal yang tersimpan dalam kalimat rindu yang membuatku terpaku dan menantikan saat berjumpa denganmu, kekasihku. Banyak yang ingin kuutarakan, dengan beribu rasa dan sayang kutumpahkan kepadamu.

Hari Minggu, hari yang kami maki beribu-ribu. Karena dengannya, kami dipisahkan oleh waktu. Tidak ada lagi senyuman, candaan, dan semangat dalam hari kami. Yang terjadi adalah kepenatan dan kebekuan, di hari minggu ini. Andai tuhan jadikan tidak ada hari minggu, kan begitu indah duniaku bersama kekasihku. Oh tuhan... mengapa waktu begitu lama berlalu. Mengapa Engkau tak segera lepas rasa rinduku.

Ku ingin tepis semua mimpi buruk ini. Ingin kusingkirkan semua aral yang merintangi. Ingin kuucapkan kepada jiwa yang suci. Tuhan, ijinkan ku bersamanya. Tuhan, inginku rangkai kedua tangannya. Bersimpuh keharibaanmu, menghiba dan meminta. Dengan tulus Tuhan... ingin ku tebus rasa rindu didada.

Tiada lagi ragu, tiada lagi risau di kalbu. Kuyakin kaulah dambaan hati. Kuyakin dengan penantian ini. Akhir dari penantian, akhir dari rasa rindu yang telah membuncak di dada. Ijinkan ku memelukmu... 


MENGHANTUI
22.39 | Author: Unknown

Awalnya ku ingin melepaskan, segala beban yang memuncak di dada. Segala rindu yang bertalu-talu dalam keheningan sendu. Segala rasa yang berada di jiwa, oh jiwa yang tergadai dengan rindu. Jiwa yang merana oleh waktu. Jiwa yang terjebak oleh masa lalu.

Mimpi itu kembali menghantui, saat rasa bersalah bergelayut merdu. Ingin kuputar roda waktu temaram rindu. Kan kutebus setiap rasa silap dengan haru biru. Sayang, kau tak disisiku. Waktu telah menipu. Ku tak mampu merangkak, tertatih dan menangis.

Kadang aku berpikir, apakah Tuhan tidak meinginkan kita bersatu. Kadang ku memaki, mungkin Ia inginkan lebih saling mengerti. Dengan inilah sayang, jalan cerita kita. Kan jadikan saling memahami, menjaga, dan menyayangi. Saat ini kau bukan milikku, ku yakin esok kan berganti waktu. Roda kan senantiasa berputar, waktu kan terus berjalan. Suatu ketika kita kan bersama. Dalam alunan melodi dunia menuju nirwana.

Sayang.. ku ingin kau mengerti, bahwa cinta ini abadi. Ku ingin kau sadari, tiada berubah dalam cita suci. Kan kubasuh kembali mutiara itu dengan mesra, saat ku rengkuh bayangan di balik lumpur cinta. Kan ku rangkai untaian mutiara berharga. Kan patri di dalam hati, didamba oleh Pemilik Cinta.

Gundah
23.28 | Author: Unknown
Kurasakan rasa gundah dihatimu, kenapa tak kau ucapkan.
Kurasakan rasa perih di dadamu, kenapa tak kau utarakan

Walau diriku tak berada disisimu, sukmaku kan menemani.
Meski ragaku tak mampu membelaimu, hatiku kan melindungi

Sayang.. bicaralah
Walau perih, ingin ku raih tangan ini. Ku balut lukamu, kurangkai hatimu
Walau sedih, ingin ku belai sendu ini. Ku lerai air matamu, kutata cintamu

Kasih.. inginku raih hatimu malam ini


CERAH
08.03 | Author: Unknown
Pagi ini mentari tersenyum cerah, udara segar menyinari cakrawala yang bersemburat merah. Alunan sepoi pagi begitu hangat, merengguh jiwaku yang tertutup beku. Indahnya hari dengan beribu harapan kepadamu, titi aku Tuhan menggapai ridhoMu. Dalam sebuah cerita kehidupan, kuyakin suatu ketika kan berlabuh jua. Segar hariku kini, dengan beribu harapan yang kunanti.

Tuhan..
Bukakanlah jalanku tuk dekat kepadanya.
Mudahkanlah langkahku tuk berjumpa dengannya.
Ijinkan ku rengkuh tangannya, bersama menggapai surga.
Arungilah jalan kami tuk gapai segala mimpi ini.

Tiap saat aku menanti, sebuah kabar gembira. Untuk kupersembahkan kepada sang tercinta. Tiap hari ku tapaki jalan panjang, dalam sebuah penantian yang didamba. Oh hari yang indah, kan kukenang saat ini sebagai sebuah bukti penantian. Kan ku gores cerita ini dalam buku keabadian. Bersama cinta nang bersemi.
Awan Tebal
12.45 | Author: Unknown

Sayang...
hari ini awan bergelayut tebal.
Suasana mendung menerpa.
Ada apa dengan dirimu sayang.
Suaramu sendu, wajahmu suram.
Ingin ku membelaimu dan memelukmu.
Redakanlah resahmu.

Sayang..
Maafkan ku tak berada di sampingmu.
Ingin kureda resah itu,
ingin ku ringankan bebanmu.
Ingin kulerai air matamu.

Sayang...
Menangislah disisiku, ungkapkan gundahmu.
Ceritalah, andai ku dapat meredakan suram itu.
Ingin ku peluk dirimu, redakan resahmu.

Sayang...
Ingin kubantu dirimu
Kuringankan bebanmu
Kubantu hasratmu

Ingin kubuat dirimu bahagia
kuisi harimu dengan warna
Tak tega ku melihatmu menderita
Semoga kita segera bersama
EMBUN PAGI
05.22 | Author: Unknown
Berderai dingin embun pagi, ketika kusapa bintang yang kelelahan. Berluruh hawa dingin, dalam semangat penuh tantangan. Mendekapku dalam angan dan bayangan. Tuk temani keganasan hari dengan penuh perasaan. Bersamamu sayang, memastikan penuhi kebahagiaan.

Sayang.. Dahulu, Maafkan aku tak bersamamu. Maafkan aku yang telah melupakanmu. Dan maafkan aku yang tak menemuimu. Namun bayanganmu tetap melekat, ingatanku tak akan lenyap. Dan harapanku tetap erat. Bersamamu, kini dan nanti. Esok kan kujelang, impian kan kupersembahkan. Kan ku lihatkan, bahwa rasa ini bukanlah lamunan. Namun harapan menuju kenyataan.

Kasih, bergembiralah dan senyumlah. Walau raga tak bersua, hati telah ku jumpa. Beribu doa kulantunkan, tuk perkuat harapan akan kesetiaan. Untukmu kasih, yang kini belum dapat kuraih.

Hatiku perih sayang, ketika kulihat kenyataan jalang. Hatiku terkoyak dinda, walau beribu tantangan kan kuhadang. Ku bersalah, kini ku berpasrah. Pada Sang Pemilik Kasih segala doa kuserah.
Istimewa
22.35 | Author: Unknown

Malam ini begitu istimewa. Aku pandangi wajahmu disudut ceritaku. Sayang, engkau berbisik dalam kesunyian malam. Membawaku ke dalam alam lamunan. Walau dingin, angin malam menusukku dengan kaku. Tak inginku beranjak, memilihku membatu. Walau bukan raga yang nyata tercipta, bersyukurku cintamu membangkitkanku. Oh kasih, hatiku telah terpaku kepadamu. Pikiranku telah tertawan dalam anganmu.

Saat kupandangi awan di langit kelam. Secercah bintang membelah dengan mesra. Kunikmati malam ini bersama bayangmu kasih. Walau kau tiada, sukmamu tetap bersamaku.  Di keheningan malam ini pula, hewan malam berteriak bersahutan. Seolah memberikanku semangat, memberikanku harapan. Bahwa suatu saat kita kan bersama.

Kuhaturkan nafas ini sebagai bukti. Kupersembahkan raga ini tuk keabadian abadi. Jiwaku telah tertawan, dalam lubuk hatimu yang paling dalam. Oh kasih.. kurasakan pula hatimu pedih. Percayalah bahwa hatiku telah menjadi milikmu. Yakinilah, esok kan kita jelang selalu. Demi masa depan bersama.. Kau dan aku.
Usah Kau Ragu
19.59 | Author: Unknown

Kasih.. usahkah kau ragu, ku kan selalu untukmu.
Kasih.. usahkah kau ragu, ku kan selalu menantimu
Kasih.. usahkah kau bimbang, hanya kau pilihanku seorang
Kasih.. usahkah kau goyang, segera ku kan kupinang.

Berpuluh hari kan kembali kutapaki
Berdawai detik kan kunikmati
Hanya untukmu, arah semua penantian
Obat penawar segala kegelisahan

Cinta... Jangan kau tanyakan kenapa
Karena rasa ini dari sang pemilik Jiwa
Sayang.. Sudikah kau paksa dunia
Arungi surga bersama sang pemuja

Beribu onak telah kulalui,
Berjuta harapan kembali kuraih
Tuhan Telah tuliskan untuk kita
Saatnya kelak kita kan bersama

Kupilih bukit terjal demi hasrat bersamamu
Kutantang dunia tuk meraih surga
Kan kupersembahkan kepadamu
Oh... Sutra sang harapan jiwa

Kemarin, kini dan nanti
Kan kulukiskan dunia dengan pena warna
Bersama harapan dan biduk hati
Menanti kembali mimpi yang kita janji
Lelah
03.06 | Author: Unknown

Malam ini... mataku tak bisa terlelap. Pikiranku melayang layang. Kulamunkan sebuah hasrat yang menggebu. Kubutuhkan dirimu kasih. Beban berat ini, tak mampu kupikul sendiri. Ujian ini membuat ku merasa membutuhkanmu. Cobaan ini kan menjadikan kita bersatu. Sayang, kau bukan milikku.

Malam ini... udara dingin menusuk kalbu, semburat cahaya terlintas di langit kelam. Kuyakin Tuhan kan kirimkan jalan, agar kita bersatu. Bersama, gapai surga tercinta. Hasratku ingin menjemputmu, dalam peraduan malan. Dalam kesendirian, kuyakin Tuhan takkan diam. Ia telah takdirkan garis kehidupan. Pun ketika cinta bangkitkan kenangan.

Tuhan pula yang hilangkan, demi cinta yang menggelora. Saatku kehilanganmu, saat ku terpaku. Cita tidak bersambut mesra, hanya untaian doa saat kupinta.Tuhan kini telah bangkitkan diri, demi cinta yang sejati. Kini, dan nanti...
Sepi
23.33 | Author: Unknown

Malam ini begitu sepi. Tanpa bayangmu tanpa cerita hati. Kembali tergores luka yang masih perih. Saat rinduku memuncak bersama bayangmu. Kupandang dengan pilu dan sendu. Hatiku kembali beku ketika angkasa campakkan jiwa. Ku tak dapat meraih bayangmu tanpa ujian raga. Ku sadari gejolak ini tiada arah tertumpah .

Kemanakah kuadukan rinduku ini. Kemanakah kubasuhkan luka perih. Kemanakah kuhapus air mata suci. Bersamamu di ujung jiwa. Malam ini, Rembulan tak mampu membuatku tersenyum. Lintang gemerlap tak goyahkan angan di dada. Tiup lembut dingin malam tak lagi semerbak harum sukma. Tanpa bayangmu dalam jiwa yang terang dan nyata. Beranda yang dingin mencekam. Saat kabar datang bersama sang pemuja. Lirih kuterpaku hanya pandangi bayang. Akan kah kau bahagia bersama si ilalang.

Malam ini terasa lambat, ketika bait rindu tak mampu lukiskan apa yang ada di dada. Jemariku kaku tanpa semangat, saat ingin ku goreskan rasa sepi yang memuncak didalam dada. Oh cinta yang berhujung duka. Kupasrahkan kepada Sang Pemilik Cinta, sampaikan salamku dalam mimpinya.
MAKNA KEHIDUPAN
23.53 | Author: Unknown
Kawan, tahukan engkau makna kehidupan. Ternyata didalamnya ada rahasia yang kan menjadi kejutan. Ada pula rasa haru rindu dalam penantian. Hanya Tuhan yang kan mengerti, apa yang kan terjadi. Seperti diriku yang tak pula kutahu. Apa dan bagaimana Ia menjadikannya lupa. Pun akhirnya dikembalikannya juga.

Aku pun tak tahu, ketika cinta pernah tercampak. Kini kembali berujung, bagai mega yg manis berarak. Mungkin dulu, ia membenciku. Kini cinta telah tumbuh bersemi kembali. Dahulu, rasa sakit penuhi hati, kini hati tertakluk karena rindu.

Sudut derita walau kembali terkoyak. Kenangan suram walau kembali berjelang. Sakit didada walau kembali terasa. Namun harapan mampu kalahkan segala. Demi cita yang tercipta.

Hanya waktu yg kini diam membisu. Ia putarkan harapan dan kenangan. Sampai ujung senja dan masa, penuh rasa dan cita. Dalam sebuah bait penantian, ku sandarkan sebuah harapan. Tuhan… bimbing aku dalam perjalanan.

19/09/12 11:45 WIB

HARU BIRU
23.51 | Author: Unknown
Ketika flamboyan tak lagi bertiup, awan mega kembali berarak. Menegadahku dalam harapan. Dalam Haru biru nan dicinta. Oh dinda yang bersemi dihujung hari. Kuhaturkan segelas rindu pada sang pemilik cinta. Ku lukiskan hasrat yang lama bersemi. Menanti penuh sepi dalam irama sunyi. Angin yg berhembus dengan lancang. Kepadamulah ku sandarkan harapan depan. Akankah terulang kembali sepi… Sunyi…

Ku tak ingat sebait kisah kelam. Hingga kau lantunan sebuah irama. Ku tak mengerti nada cinta suram, hingga kau hidupkan kembali harapan. Oh irama yang berdawai panjang, oh sinar yang berjalan temaram. Dalam keharuan kembali kurangkai nada nada kehidupan. Walau tak berbekas, esok pasti kan kembali kutapaki.

Bait rindu ini sungguh lucu, haru biruku tlah bercampur rindu. Dalam masa yang semoga tak panjang, ku bangkitkan angan melayang. Derap semangat kulambaikan kepada Tuhan. Ku ingin menggapainya Tuhan. Dalam kehidupan kembali ku jalin kesetiaan.

19/09/12 10:35 WIB
Aneh
22.17 | Author: Unknown

Perasaan ini senantiasa berkecamuk. Bagai ombang yang berderai riuh di ujung pantai. Menghempas segala yg ada, mencampurkan segala yg dibawa. Oh Tuhan, ia hempaskanku ke dalam sebuah lamunan. Ditemani oleh semilir angin malam di pantai malam itu. Sendiri, ku maki nasib yang tar tertuju.

Perasaan ini sungguh aneh. Kumencintai orang yang salah, meski ku tak akan menyerah untuk sebuah pengorbanan, biarlah dunia menjadi saksi. Engkau jadikan aku sibuk menanti. Oh bintang, yang berkerlip jauh di dekat nirwana. Ia bagaikan bintang yang indah, namun tak kuasa ku rengkuh dalam bait cinta sebenarnya.

Aku hanyalah sebutir pasir di tengah lautan. Terombang ambing oleh derai perasaan. Berkecamuk dalam setiap keadaan. Kan kumaki engkau kasih, dengan sebuah bait harapan. Kan kuhina engkau kasih, telah merenggutku dalam setiap keadaan. Kupaksakan diriku membencimu dalam arus percintaan. Namun kutak bisa...

Perasaan ini sungguh menyiksaku. Saat kau buka kembali tabir kelam di masa silam. Terantuk dalam sebuah bayangan kelam. Memudar, perlahan menggapai sinar temeram. Oh dinda, kekasih yang tak bisa kumiliki. Bagimulah kuwujudkan kehidupan ini. Bagimulah kuharapkan senyumanmu saat kuhabiskan hari. Merengkuhmu dalam mimpi, memelukmu dalam angan abadi.
Mengadu
22.50 | Author: Unknown

Malam ini kutemani kau mengadu.
kau rasakan sakit, ku rasakan perih.

Malam ini kutemani kau merintih,
ku rasakan sedih, sesak nan membuncak.

Oh dinda...
Cinta ini terlarang, dan ku jadikannya segala temaram.
Surya tidak lagi bersinar, bulan malu dalam peraduan.
Kutempuh jalan itu, tuk memastikan kau bahagia.

Waktu kan kubelah, dunia kan ku pecah.
Demi penantianku, di ujung waktu. Kan kukatakan pada dunia.
Kubersalah kepadanya,
Kekuatan
11.24 | Author: Unknown

Kekuatan cinta memang luar biasa, sanggup untuk meluruhkan hati pujangga. Menjadikan pena dan kertas tak lagi mampu unkapkan rasa. Sejuta warna mampu pudarkan warna surya. Matahari menjadi gelap dan dingin, sedingin rasa dan cinta yang menunggu. Sedingin embun pagi yang berharap sebuah kabar dari angin.

Oh bulan nan elok, yang senantiasa menjadi inspirasi pujangga. Kali ini, cahayamu telah padam. Pesonamu telah musnah dari hatiku. Kini, kau bagaikan tanah seonggok tak berarti. Hanya ditemai bulan yang bersinar temaram yang diam membisu.

Oh Tuhan, engkaulah saksi dari keajaibanMu. Dengannya air telah menjadi api, dan manusia bisa melayang ke angkasa. Dengannya pula, seorang pejuang menjadi lembut, dan seorang wania menjadi garang. Terkutuklah para pemuja yang tiada mengerti. Alunan melodi hidup yang mampu merubah segalanya.
Katakan
21.11 | Author: Unknown

Usah kau khawatir tentang duniamu, kan kutunggu di ujung masa.
Usah kau bingung tentang nasibmu, kan ku persembahkan nyawa.
Usah kau bingung cintamu, kan tlah labuhkan rasa.
Hingga ku sulit mengatakan mencintaimu

Saat kau katakan dunia, ku katakan kematian.
Saat kau katakan harta, ku katakan peperangan.
ku tak berikan dunia kepadamu, kan kubelah dunia untukmu.
Hingga ku sulit merasakan cintamu

Dinda... di penghujung senja,
Hapuslah air matamu, karena esok kan berjelang.
Tegakkan kepalamu, karena matahari kan bersinar terang.
Kibarkan sayapmu, karena angin bersepoi riang.
Hapuslah.. karena ku disampingmu.

Jari jemari telah terantup, kidung doa tlah terucap.
Hanya Tuhan gerakkan harapan nan berderap.
Ia tlah haturkan deburan nan indah
untuk ukirkan sejarah terindah.

Kasih... masihkah kau ragu
bahwa hanya satu cinta tercipta
untuk mu, Tuhan, dan keajaiban rasa
dalam sebuah untaian tertuju
Mentari Cerah
07.06 | Author: Unknown

Pagi cinta...
Kuhaturkan semangat ini padamu, seseorang yang telah melabuhkan hatinya.
Kuhaturkan salam ini juwitaku, seseorang yang membagi cinta.
Kuhaturkan rindu ini permata hatiku, kepada jiwa yg gelisah asmara.
Kepadamu kubuka semangat baru, kepada hati yg menunggu.

Wahai Cinta yang tertunda...
Pastikan dirimu bahagia, walau ku tak berada disisimu.
Pastikan wajahmu bercahaya, walau kau bukan milikku.
Hanya seuntai doa kuhaturkan demi keabadian
walau waktu kan menjadi taruhan

Demi Cinta yang terhalang...
Inginku melihatmu bahagia selamanya.
Dambaku dalam elok nafas surga
Walau dunia bukan milik kita.

Wahai butiran embun yang segar...
Basuhkan ku dalam keharuaan Sang Penyayang
Rengkuh ku dalam munajat kedamaian
Kesendirian kekhusyukan dalam sebuah cerita
penantian....
Berkesudah
21.12 | Author: Unknown

Cerita itu tiada berkesudah
Menggantungkan sebuah asa besar tak berujung
Melantunkan sebuah sajak tanpa melodi riung
Tanpa arah dan tanpa jejak

Diam membisu, bergerak dan mematung
Ku bagai tanpa arah, dan mata
Bergerak terombang ambing hanya menapaki angin
Terbuai dalam sebuah perjalanan tanpa makna

Kini pula cerita itu tiada berkesudah
Seperti bait sebelumnya yang hilang musnah
Kini penghujung critapun menjadi resah
Menyisakan galau tak bercelah

Kasih... ijinku memanggilmu kasih
Untaian terakhir kan kupersembahkan
Jemari terakhir kan ku haturkan
pada saatnyananti, jikalau berjelang
Tak Usah Ragu.
08.46 | Author: Unknown

Tak usah ragu.
Ku bukan siapa-siapa sejenak langit membiru,
sepintas flamboyan ungu menerpa.
Walau itu hanya sesaat,

namun tak perlu kau pikirkan lagi.
Badai akan meluruh berlalu.
Saat itu bayanganmu akan hilang seperti biasa.

Tuhan kan cabut kembali apa yang ada.
Sepintas kan kutitipkan asa kepadaNya.
Ku akan bahagia bila melihat kau bahagia.
Terima kasih atas segalanya.

Ku akan bahagia melihatmu bersujud dan bersyukur.
Ku akan bahagia atas segala kenangan di masa lalu.
Tak usah ragu.
Terima kasih telah mengenalmu.
Terima kasih telah bersua di hatiku.
Sungguh, guratan luka kini terasa indah.
Guratan perih menjadi cerita indah nan lirih.
Antara aku, Tuhan, dan semesta....
Tak Sanggup
05.43 | Author: Unknown

Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku dunia.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku lara.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku cita.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku warna.

Oh Tuhan.
Kembali Kau buka mimpi ini
Kembali Kau toreh luka ini
Kembali Kau gocang jiwa ini
dalam sebuah untaian resah dan bingung.

Tak sanggup ku Tuhan .
untuk menolak cita yang Kau tebar.
untuk menghapus mimpi yang Kau buka lebar.

Kenapa kau buka luka itu, kenapa kau cabik lagi perasaanku.
Bila kau tak sanggup untuk berkata jujur.
Bila kau tak sanggup untuk bersikap.
Bila kau tak sanggup untuk memilih.
Mimpi
05.43 | Author: Unknown

Ada satu cerita tentang sebuah mimpi. Mimpi itu pernah sirnah, dan kini kembali muncul. Namun, ada tembok besar yang menjadi penghalang. Dan ada sebuah luka yang kian menganga. Kini pilihannya cuman satu, mengubur mimpi itu dan membiarkan luka itu sembuh. Atau menggapai mimpi itu, dan menorehkan sebuah luka baru di jalan yang baru.

Oh Tuhan, sungguh ku tak mengerti arah jalan ini. Atau pun ku tak sanggup memilih diantara pilihan itu. Namun, kan kupilih luka yang tetap menganga, dan mati sebagai pejuang cita. Biarlah luka itu membusuk, memakanku, dan merenggutku. Hingga akhirnya mampu kuraih cita-cita itu. Biarlah perih itu menusuk, menerkam, dan mencabik. Hingga kugapai mimpi itu kembali.

Oh Tuhan, sungguh aneh rangkaian onak jiwa ini. Sungguh jalanmu elok nan berliku. Tiada kini yang ingin kudamba, hanya sebuah pertolongan Sang Maha Kuasa. Oh Tuhan, rengkuhku dalam keselamatanMu. Basuhku dalam rahmatMu, dan kasihanilah aku dalam meraih mimpi itu.
Bidukku kembali Terombang ambing
05.42 | Author: Unknown

Biduk ini kembali terombang ambing di tengah samudra. Padahal telah kubuang sauh di tengah lautan. Telah pula kubuang beberapa beban. Namun ternyata, malah menjadikan bidukku ini ringan tertepa. Bagai buih yang terhanyut, bagai bulu yang tertiup. Oh tuhan, masih jauhkah perjalanan ke daratan. Oh Tuhan, masih lamakah badai ini berjelang.

Dalam sebuah waktu, terkadang beban biduk diperlukan untuk menjadikannya rata mengarungi lautan. Dalam sebuah waktu pula, terkadang beban harus dilabuhkan agar menjadikannya cepat mencapai tepian. Dalam sebuah waktu pula, banyak diantara kita tiada faham bahwa inilah perjalanan tanpa tepian. Aku, kami, engkau, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Oh Tuhan, bidukku ini kembali tertiup topan. Kembali terseret arus, tergerus perlahan oleh ombak yang ganas. Tubuh ini sudah renta tuhan. Pikiran ini telah berkecamuk, masihkah engkau tambahkan beban dalam bidukku. Namun kuyakin padamu Tuhan, biduk ini suatu saat kan berjelang. Bersandar kearah labuhan yang tenang.

Sekelumit bayangan mengoncang bidukku, melukis kembali masa silam yang keras. Meggores kembali duka dan luka lara. Menggoyang ketenangan jiwa dan pemikian. Kini bayangan hadir tersebut telah kembali bersua dalam sebuah lantunan episode yang tiada berkesudah. Oh Tuhan. Dulu kau hadir melukis warna dalam hidup yang penuh kehampaan...Namun sejenak hadirmu hilang terbang bersama asah yang terlukis, tapi bayangmu takkan terhapus dalam senyum dan tawa...Kini...kau kembali hadir, memberi warna baru memuncakkan asah yang pernah ada. Apakah rencana-Mu yaa Robb atas kami???
Porak Poranda
05.41 | Author: Unknown

Awalnya kunikmati dunia ini.
Awalnya kurasakan air, kubasuh angin.
Berkelok setiap masa dalam sebuah perjumpaan,
Bergoyang sebuah biduk dalam kehidupan.
Meski akhirnya berhujung kepada samudera lepas
bersandar pada dermaga rasa.

Oh dunia, siapakah kamu...
Memporak porandakan hasrat dalam duka lalu
Mencabik tubuh dalam warna jingga ungu
Menoreh luka menyayat dalam kalbu
Jika kau pun tak pula menjawab sepoi itu
Jika kau pun tak usah hatur dalam rindu
Jika kau pun tak mudah lepaskan aku

Oh dunia, siapakah kamu...
Berani menghancurkan angan, mencederakan mimpi
Berani membelai biduk tanpa arahkan layar
Mengombang ambingkan bidukku dengan kegarangan

Oh dunia, siapakah kamu
Berani berucap, namun enggan berbuat
Berani bercita, namun enggan berkarya
Ku hanya mampu menunggu. Sikapmu
Buaianmu
05.41 | Author: Unknown

Kutertidur dalam sebuah buaian kehidupan. Pada saat kubuka sebuah lembaran baru, tersirat sebuah bayangan di masa lalu. Ku tak tahu sapa dan apa yang menjadi bayanganku di masa lalu. Sebuah memori tanpa sengaja terkubur. Mungkin Tuhan kehendaki pada awalnya.Sebuah rencana yang sampai kini pun tak kumengerti sepenuhnya apa yang menjadi kuasaNya.

Di penghujung senja, sekelebat bayangan kembali muncul. Berbagai gambaran dan warna di masa silam kembali menggelayuti membran otakku. Ia menggelitikku dalam sebuah lamunan hampa yang masih belum kumengerti. Ia menangis pun oleh sebuah cerita yang tak kufahami. Ia tertawa pun oleh sebuah canda yang tak dapat kugapai.Oh Tuhan... Apa maunya kini.

Awal kuduga, ia ada cerita kepadaku. Awal kukira, ia menginginkan sesuatu dariku. Awal kudepa, ada sesuatu yang menjadi hutangku. Ku berusaha menebusnya, walau perih di hati kan membuncak di dada. Ku berusaha tegar, walau hati ini kembali membuka warna merah kelam.
Tiada
05.40 | Author: Unknown

Dulu kau tiada, sekarangpun sama.
Dulu kita tak ada, sekarangpun juga.
Dulu sebuah sajak yg kulantunkan berakhir.

Kinipun sajak itupun telah pula berakhir.
Rasa ini hanyalah sebuah buaian senja,
dikala tiada tetaplah menjadi sirna.
Dikala akhir, tetaplah menjadi tiada
Hanya satu yg tetap kan ada, janjiku padamu.

Adakah penggantimu, yang kini telah tiada.
Adakah ceritamu,yang kulantunkan dahulu
Adakah sajakmu, yang kan kunyanyikan esok.
Tiadalah penggantimu, dahulu. Kini, dan masa yg kan datang.