
Biduk ini kembali terombang ambing di tengah samudra. Padahal telah kubuang sauh di tengah lautan. Telah pula kubuang beberapa beban. Namun ternyata, malah menjadikan bidukku ini ringan tertepa. Bagai buih yang terhanyut, bagai bulu yang tertiup. Oh tuhan, masih jauhkah perjalanan ke daratan. Oh Tuhan, masih lamakah badai ini berjelang.
Dalam sebuah waktu, terkadang beban biduk diperlukan untuk menjadikannya rata mengarungi lautan. Dalam sebuah waktu pula, terkadang beban harus dilabuhkan agar menjadikannya cepat mencapai tepian. Dalam sebuah waktu pula, banyak diantara kita tiada faham bahwa inilah perjalanan tanpa tepian. Aku, kami, engkau, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Oh Tuhan, bidukku ini kembali tertiup topan. Kembali terseret arus, tergerus perlahan oleh ombak yang ganas. Tubuh ini sudah renta tuhan. Pikiran ini telah berkecamuk, masihkah engkau tambahkan beban dalam bidukku. Namun kuyakin padamu Tuhan, biduk ini suatu saat kan berjelang. Bersandar kearah labuhan yang tenang.
Sekelumit bayangan mengoncang bidukku, melukis kembali masa silam yang keras. Meggores kembali duka dan luka lara. Menggoyang ketenangan jiwa dan pemikian. Kini bayangan hadir tersebut telah kembali bersua dalam sebuah lantunan episode yang tiada berkesudah. Oh Tuhan. Dulu kau hadir melukis warna dalam hidup yang penuh kehampaan...Namun sejenak hadirmu hilang terbang bersama asah yang terlukis, tapi bayangmu takkan terhapus dalam senyum dan tawa...Kini...kau kembali hadir, memberi warna baru memuncakkan asah yang pernah ada. Apakah rencana-Mu yaa Robb atas kami???



0 komentar: