
Didunia ini, ada manusia yg diibaratkan bagaikan sebutir mutiara. Mutiara tetaplah mutiara, walau terendam di dalam lumpur hina dengan begitu lama. Mutiara itu menunggu tangan-tangan ajaib yang penuh keikhlasan dan ketulusan untuk mengangkatnya dari kubangan lumpur, dan mengusapnya, menggosoknya hingga menjadi mutiara yang bersinar cemerlang.
Di dunia ini pula, ada manusia ...
yg
diibaratkan tangan ajaib yang menyelamatkan mutiara tersebut. Setelah
mutiara itu terangkat, tangan ajaib itu akan mengusapnya dari segala
lumpur yang melekat. Dengan sisa lumpur yang masih melekat sedikit di
tangan. Perlahan muiara itu menjadi cemerlang. Meski tangan itu telah
terbakar dan terhina dalam lumpur.
Namun, tangan itu mengangkat mutiara bukanlah untuk membuangnya. Atau mencampakkannya, atau menghinakannya. Namun mengangkatnya untuk disimpan dan dijaga. Diperlihatkan kepada dunia. Dan tangan itu mengetahui dengan yakin dan pasti sejak awal bahwa gumpalan yang terendam lumpur itu adalah mutiara.
Apakah tangan yang terendam lumpur akan disalahkan? ketika dia berkorban untuk selamatkan mutiara yang terendam itu...
Sungguh tangan yang terendam itu telah berjasa. Namun ia sekarang menjadi merana, terhina, dan tercela. Mutiara itu menyalahkan tangan yang terendam dalam lumpur dunia. Tanpa berusaha melihat jiwa dan raga pemilik tangan itu. Yang mengambil mutiara dari kubangan lumpur dengan tulus ikhlas dan penuh harap rasa.
Ketika manusia memandang gumpalan itu sebagai kotoran tak berharga. Jiwa itu melihatnya sebagai sebutir mutiara. Ia rela ulurkan tangannya ke dalam lumpur, dan mengambil dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah mutiara. Ternyata keyakinan itu benar... Mutiara itu telah fahami dirinya adalah mutiara. Bahkan mutiara terpilih yang terangkat dari lumpur. Namun...
Sungguh... Aku tak kuasa meneruskan kata-kata itu... Biarlah tangan itu terhina, hanya Tuhan Yang Ketahui segalanya.. Ia tulus ikhlas demi mutiara yang bersinar cemerlang. Namun kini mutiara itu tinggalkan jiwanya, belum terangkai menjadi untaian mutiara yang paling berharga di dunia. Manusia tidak akan pernah memaki mutiara yang telah tumbuh cemerlang. Namun akan melihat betapa hina tangan yang telah ternodai lumpur dunia.
Jiwa itu cuma berharap dan yakin. Gumpalan itu tidak hanya menjadi mutiara yang bersinar. Namun akan terangkai dalam untaian kalung kehidupan yang terindah yang pernah ada.
Suatu saat, mutiara itu akan mengerti... bahwa pemilik jiwa dan raga telah berkorban. Telah kehilangan tangannya hanya untuk menyelamatkan sebutir mutiara yang terendam...Tangan itu tidak mungkin dapat ia kembalikan. Karena ia telah rusak dan binasa. Jiwa itu akan bahagia bila mutiara itu telah sadari jatidirinya.
Namun, tangan itu mengangkat mutiara bukanlah untuk membuangnya. Atau mencampakkannya, atau menghinakannya. Namun mengangkatnya untuk disimpan dan dijaga. Diperlihatkan kepada dunia. Dan tangan itu mengetahui dengan yakin dan pasti sejak awal bahwa gumpalan yang terendam lumpur itu adalah mutiara.
Apakah tangan yang terendam lumpur akan disalahkan? ketika dia berkorban untuk selamatkan mutiara yang terendam itu...
Sungguh tangan yang terendam itu telah berjasa. Namun ia sekarang menjadi merana, terhina, dan tercela. Mutiara itu menyalahkan tangan yang terendam dalam lumpur dunia. Tanpa berusaha melihat jiwa dan raga pemilik tangan itu. Yang mengambil mutiara dari kubangan lumpur dengan tulus ikhlas dan penuh harap rasa.
Ketika manusia memandang gumpalan itu sebagai kotoran tak berharga. Jiwa itu melihatnya sebagai sebutir mutiara. Ia rela ulurkan tangannya ke dalam lumpur, dan mengambil dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah mutiara. Ternyata keyakinan itu benar... Mutiara itu telah fahami dirinya adalah mutiara. Bahkan mutiara terpilih yang terangkat dari lumpur. Namun...
Sungguh... Aku tak kuasa meneruskan kata-kata itu... Biarlah tangan itu terhina, hanya Tuhan Yang Ketahui segalanya.. Ia tulus ikhlas demi mutiara yang bersinar cemerlang. Namun kini mutiara itu tinggalkan jiwanya, belum terangkai menjadi untaian mutiara yang paling berharga di dunia. Manusia tidak akan pernah memaki mutiara yang telah tumbuh cemerlang. Namun akan melihat betapa hina tangan yang telah ternodai lumpur dunia.
Jiwa itu cuma berharap dan yakin. Gumpalan itu tidak hanya menjadi mutiara yang bersinar. Namun akan terangkai dalam untaian kalung kehidupan yang terindah yang pernah ada.
Suatu saat, mutiara itu akan mengerti... bahwa pemilik jiwa dan raga telah berkorban. Telah kehilangan tangannya hanya untuk menyelamatkan sebutir mutiara yang terendam...Tangan itu tidak mungkin dapat ia kembalikan. Karena ia telah rusak dan binasa. Jiwa itu akan bahagia bila mutiara itu telah sadari jatidirinya.



0 komentar: