
Siapakah aku, aku hanyalah jiwa yang melayang-layang di atas permukaan bumi. Tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa jejak. Hanya menanti sebuah jawaban dan kepastian, terhadap cinta yang tertunda. Yang terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Siapakah dia, yang kutuliskan dalam bait prosa dan cerita. Dialah sosok wanita yang berhasil mencerahkan hariku. Membuat hatiku lembut dan mencair, bagai air yang mengalir tenang. Dialah wanita yang berhasil membuatku menangis dalam tawa, dan tertawa dalam menangis. Bahkan membuatku menangis dalam kenyataan sesungguhnya.
Inilah kisah kami sebenarnya, kisah yang kami rajut karena kesalahan waktu. Waktu yang tidak berpihak kepada kami saat itu. Waktu yang mengkhianati cinta dan kepercayaan kami. Yang menjadikan kami berpisah dan terjebak dalam lorong serta tembok besar. Setiap saat kuukirkan dalam tembok itu, sebuah kisah dan perasaanku kepadanya. Supaya tembok itu mengerti dan memahami, bahwa kami saling mencintai. Perlahan kami kikis tembok tersebut dengan cara indah, dalam untaian kata dan makna. Agar ia mampu memahami cinta sejati kita. Kami selalu menunggu masing-masing dari balik tembok, berteriak, menangis, dan menghiba. Supaya tembok runtuhkan diri, ataupun membuatkan pintu untuk kami.
Aku berhasrat menuliskan karya kepada mutiaraku, hingga kami dipersatukan oleh tuhan. Atau dunia mengetahui begitu besar perasaanku kepadanya. Perasaan yang suatu saat kami meyakini akan kami wujudkan bersama. Dalam sebuah alunan percintaan dan perdamaian. Oh Cinta yang bersemi namun merana. Saksikanlah, karya ini adalah persembahanku kepada kekasihku.



