Tertumpuk segala rasa dan asa. Tertumpah segala angan dan cita. Diujung waktu yang telah kuselam selalu. Bersamamu kasih dalam penantian diri nan sejati. Inginku belai bayanganmu, walau terungkap segala gundah jiwa. Inginku peluk erat impianmu, janji, Dalam setiap pengabdian raga. Ketulusan cinta tlah gusarkan kabut senja. Kesucian jiwa tlah runtuhkan segala sesal nan dicipta.
Kasihku yang berbalut waktu, dalam penantian diri ku telah tata hati ini. Ku telah jalin sukma ini, dalam penantian diri yang kan berakhir hari. Menit dalam detik kujumpai dalam jalinan rindu yang sendu. Jam berdetak lambat, haripun bergoyang pelan. Ketika kumelihat rindu telah gemuruh di dada. Waktu yang kaburkan bayangmu, ketika ia cabut impian dalam kenestapaan cita.
Ketika ia guratkan ragu, siratkan bayangan abu. Antara cahaya dan kegelapan diri, tak sadari keadaan yang taklukkan pilu. Hatiku tergores saat itu, dan tuhanmu hilangkan impianku. Meski Ia tanamkan rindu yang selalu bergelayut di qalbu. Yang terbuka saatnya, ketika kau siap nyatakan cinta. Karena cinta yang tertawan waktu.
Tuhan.. ijinkan kami bersatu lagi, ijinkan ku tebus rindu ini. Ijinkan ku basuh luka ini. Bersama bidadari yang telah yakinkan hati. Ia tersenyum, begitu cantik dan rupawan diri. Ia gemulai, begitu indah dan hasratkan hati. Demi cinta kepadaMu Tuhan, inilah bidadariMu untukku. Yang telah kupilih semenjak waktu lalu.



0 komentar: