GETAR JIWA
05.12 | Author: Unknown

Perih kurasakan dalam getar jiwa. Ketika sang surya belum nampakkan sinarnya. Mataku tak bisa terpejam teringat dengan lamunan. Kurasakan gundah, perih dan duka. Risaukan kepada pemilik cinta ada apa dengan dirinya. Ku pandangi jejak jiwa ini dalam setiap sudut-sudut jiwa. Ingin kulerai duka lara yang kian perih, menjerit, hingga ia berjalan tertatih. Namun ku tak kuasa, hanya bersenjatakan kata-kata. Lepaskanlah ia, tuk gapai kebahagiaannya.

Demi jiwa yang telah lara, demi kebahagiaannya yang kini sirna. Tak inginkah engkau melihatnya bahagia. Tak sudikah engkau memberikan hasratnya. Demi waktu yang senantiasa membisu. Terpaku, erat dalam relung kalbu. Ia menderita, demikian pula dengan jiwanya yang terluka.

Demi jiwa yang kian menderita. Tak inginku melihat air mata. Bergelayut di wajah sendu yang kian suram tiada cahaya. Tak sudiku melihat perih lirih di hatinya yang suci. Dunia tak pantas menjadikannya lara. Cinta tak semestinya menjadikannya menderita, terpaku dalam sudut waktu yang senantiasa membeku.

Wahai surya... Lepaskanlah ia menuju kebahagiannya. Sinarilah ia dengan kebahagiaan tuk hapus segala lara. Bersama bulan yang dapat menuntunnya, walau tertatih, lirih merengkuh di ujung masa. Walau perih, inilah jalan yang abadi menuju kebahagiaan sejati, bersama waktu yang kian menanti.

Wahai surya.. janganlah engkau membuatnya binasa. Dengan sinarmu yang seharusnya melindungi. Dengan cerahmu yang ternyata membakar diri yang suci. Tegaplah, dan tegaklah sebagai seorang perwira yang memberikan cinta kepada sang pemilik hati. Reduplah... dalam kedamaian senja di ufuk dunia.
|
This entry was posted on 05.12 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: