DIAM DAN BEKU
20.17 | Author: Unknown

Ku terperanjak, ketika rasa itu terungkapkan. Ku terheran dan senang, ketika kau ungkapkan sayang. Sungguh, tak kusangka besarnya rasa dan cinta telah sekejap sembuhkan luka. Dalam irama mesra, dalam bait romantisme cinta. Waktu seolah terdiam dan beku. Saksikan cinta yang terukir bersama.

Kecup bibirmu, membuat duniaku beku. Peluk mesramu, hangatkan sukmaku. Dalam keabadian kenangan yang kan kukenang selamanya. Dalam bait cinta yang kita jalin bersama. Cintaku berbunga, dalam suasana dunia yang berkelabu jingga. Rasaku bersemi, dalam gemuruh badai yang menanti. Tuhan, ijinkan ku rengguk cintanya sekali lagi. Menanti dalam melodi sejati. Kan kuiringi dalam bait puisi yang kan cerahkan diri.

Hari itu, jiwaku terbakar. Dalam suasana cinta yang merona. Dalam sukma cahaya yang berjaya. Kepada siapakah kugantungkan segurat cinta. Bila bukan kepadamu cinta, yang telah kunanti dalam bait doa. Hari itu, ragaku bergetar. Kau tantang dunia dan korbankan dunia. Dalam suasana cinta yang tulus, dalam nada rasa yang halus.

Cinta, ku kan kembali berjumpa. Ijinkanku tebus segala luka. Ijinkan ku kecup tanganmu dengan mesra. Dalam maaf dan penyesalan. Inginku hanya sayangimu selamanya.
|
This entry was posted on 20.17 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: