Kupersembahkan sebait
kalimat rindu, bagi jiwa yang terluka. Kupersembahkan sentuhan qalbu,
bagi hati yang tergores pilu. Kupersembahkan sebaris hasrat menggebu,
untuk bertemu denganmu. Duhai kasih yang kunantikan, demi rindu yang
menggelora. Duhai kasih yang tersematkan, demi rasa yang tersiratkan.
Sinar temaram kembali bersemayam. Di lupuk hatimu yang terdalam. Kuingin bisikkan r
asa
cinta disepanjang malam. Walau kini keadaan sungguh sangat menyayat,
walau hati terluka. Kungin kembali saksikan dirimu bahagia. Wahai jiwa
yang resah, cukuplah diriku berserah. Wahai jiwa yang menantikan, kan
kujadikan jiwamu bersinar terang.
Kekasihku... apakah engkau
ragu? ketika telah kusematkan hatiku dengan pilu. Apakah engkau ragu?
ketika mimpi telah tersingkap rindu. Apakah engkau ragu? ketika kupupuk
harapan dengan kesetiaan. Ku ingin rengkuh kembali jiwa yang berserak
biru. Perih dan sedih, menjadi warna nan abadi.
Pagi ini, purnama nampak redup. Udara dingin begitu menusuk. Angin pagi menyapaku dengan lembut. Rombongan pedagang pasar hilir mudik kian merasuk. Kusapa kasihku pagi ini. Selamat pagi, hati... Kukecup dahi dalam lamunan diri. Kupeluk hangat dalam kedalaman sanubari. Walau semua dalam angan dan mimpi.
Cinta, kutak pernah ragu akan cintamu. Yang kan kusambut dengan tulus cintaku. Kutak pernah risau dengan sendu, kan kubasuh dengan bahagia dan haru. Kutak pernah kan pergi meninggalkanmu, ku kan menanti setia disisimu. Demi cinta abadi yang kan kujaga slalu.Rindu ini telah memuncak abadi. Siap kukan menemani menggapai surga tertinggi. Sayang ini telah memecahkan relung-relung hati. Siap kukan basuh bersimpuh di halapan pemilik jiwa suci.
Oh Indahnya pagi ini, melihatmu bahagia ceria. Dalam semangat dan untaian doa, kan kulantunkan dalam segala masa. Demimu cinta, ketulusan hati dan jiwa. Kuhanya berharap dirimu selalu bahagia, selamanya...
Tuhan, ijinkan ku basuh lukanya....

Kadang ku mentertawakan jalan ini. Kadang ku memaki diri ini. Ketika cinta dahulu bersemi, kita tidak diijinkan tuk arungi. Ketika cinta kembali besemai kini, waktu dan keadaan telah menghalangi. Namun cintaku tulus dan suci. Nan kujaga dalam biduk nan abadi.
Kasih... kumemilihmu bukan karena kelebihanmu. Kumencintaimu dengan kekuranganmu. Ingin kujadikan titian kesempurnaan. Ingin kulukis kenangan dalam ketiadaan. Ingin kurenguh jiwa malang dengan kasih sayang. Kumenyayangimu, dari sisi yang tiadapun yang mengetahui. Dari segala rasa dan sifat. Dari segala benak dan hati. Kutulis cintamu, terukir dalam benak. Tersemai dalam hati. Terpatri dalam jiwa ini.
Apakah benar rasa ini. Apakah benar sayang ini. Saat kau ada, kutiada. Saat kita bersama, jalan belumlah terbuka. Sayang, kuingin memilikimu seutuhnya. Entah bagaima caranya, Tuhan kan tuntun kita. Namun, yakinlah... kita kan bersama, selamanya.
Saat rinduku membuncak, bayanganmu hadir tuk mengobati. Saat sendu ku beradu, mimpi indah bersamamu kan melerai sunyi. Kasih, ingin ku renguh jiwamu. Ingin ku peluk dirimu. Tumpahkan rasa, bersamamu...

Hari Minggu untuk kebanyakan kekasih adalah hari yang dirindu. Tapi tidak dengan duniaku. Hari Minggu adalah hari yang begitu sendu. Banyak hal yang tidak bisa kita lewatkan, banyak hal yang tidak bisa kita ceritakan. Banyak hal yang tersimpan dalam kalimat rindu yang membuatku terpaku dan menantikan saat berjumpa denganmu, kekasihku. Banyak yang ingin kuutarakan, dengan beribu rasa dan sayang kutumpahkan kepadamu.
Hari Minggu, hari yang kami maki beribu-ribu. Karena dengannya, kami dipisahkan oleh waktu. Tidak ada lagi senyuman, candaan, dan semangat dalam hari kami. Yang terjadi adalah kepenatan dan kebekuan, di hari minggu ini. Andai tuhan jadikan tidak ada hari minggu, kan begitu indah duniaku bersama kekasihku. Oh tuhan... mengapa waktu begitu lama berlalu. Mengapa Engkau tak segera lepas rasa rinduku.
Ku ingin tepis semua mimpi buruk ini. Ingin kusingkirkan semua aral yang merintangi. Ingin kuucapkan kepada jiwa yang suci. Tuhan, ijinkan ku bersamanya. Tuhan, inginku rangkai kedua tangannya. Bersimpuh keharibaanmu, menghiba dan meminta. Dengan tulus Tuhan... ingin ku tebus rasa rindu didada.
Tiada lagi ragu, tiada lagi risau di kalbu. Kuyakin kaulah dambaan hati. Kuyakin dengan penantian ini. Akhir dari penantian, akhir dari rasa rindu yang telah membuncak di dada. Ijinkan ku memelukmu...

Awalnya ku ingin melepaskan, segala beban yang memuncak di dada. Segala rindu yang bertalu-talu dalam keheningan sendu. Segala rasa yang berada di jiwa, oh jiwa yang tergadai dengan rindu. Jiwa yang merana oleh waktu. Jiwa yang terjebak oleh masa lalu.
Mimpi itu kembali menghantui, saat rasa bersalah bergelayut merdu. Ingin kuputar roda waktu temaram rindu. Kan kutebus setiap rasa silap dengan haru biru. Sayang, kau tak disisiku. Waktu telah menipu. Ku tak mampu merangkak, tertatih dan menangis.
Kadang aku berpikir, apakah Tuhan tidak meinginkan kita bersatu. Kadang ku memaki, mungkin Ia inginkan lebih saling mengerti. Dengan inilah sayang, jalan cerita kita. Kan jadikan saling memahami, menjaga, dan menyayangi. Saat ini kau bukan milikku, ku yakin esok kan berganti waktu. Roda kan senantiasa berputar, waktu kan terus berjalan. Suatu ketika kita kan bersama. Dalam alunan melodi dunia menuju nirwana.
Sayang.. ku ingin kau mengerti, bahwa cinta ini abadi. Ku ingin kau sadari, tiada berubah dalam cita suci. Kan kubasuh kembali mutiara itu dengan mesra, saat ku rengkuh bayangan di balik lumpur cinta. Kan ku rangkai untaian mutiara berharga. Kan patri di dalam hati, didamba oleh Pemilik Cinta.
Gundah
23.28
| Author:
Unknown
Kurasakan rasa gundah dihatimu, kenapa tak kau ucapkan.
Kurasakan rasa perih di dadamu, kenapa tak kau utarakan
Walau diriku tak berada disisimu, sukmaku kan menemani.
Meski ragaku tak mampu membelaimu, hatiku kan melindungi
Sayang.. bicaralah
Walau perih, ingin ku raih tangan ini. Ku balut lukamu, kurangkai hatimu
Walau sedih, ingin ku belai sendu ini. Ku lerai air matamu, kutata cintamu
Kasih.. inginku raih hatimu malam ini
CERAH
08.03
| Author:
Unknown
Pagi ini mentari tersenyum cerah, udara segar menyinari cakrawala yang bersemburat merah. Alunan sepoi pagi begitu hangat, merengguh jiwaku yang tertutup beku. Indahnya hari dengan beribu harapan kepadamu, titi aku Tuhan menggapai ridhoMu. Dalam sebuah cerita kehidupan, kuyakin suatu ketika kan berlabuh jua. Segar hariku kini, dengan beribu harapan yang kunanti.
Tuhan..
Bukakanlah jalanku tuk dekat kepadanya.
Mudahkanlah langkahku tuk berjumpa dengannya.
Ijinkan ku rengkuh tangannya, bersama menggapai surga.
Arungilah jalan kami tuk gapai segala mimpi ini.
Tiap saat aku menanti, sebuah kabar gembira. Untuk kupersembahkan kepada sang tercinta. Tiap hari ku tapaki jalan panjang, dalam sebuah penantian yang didamba. Oh hari yang indah, kan kukenang saat ini sebagai sebuah bukti penantian. Kan ku gores cerita ini dalam buku keabadian. Bersama cinta nang bersemi.

Sayang...
hari ini awan bergelayut tebal.
Suasana mendung menerpa.
Ada apa dengan dirimu sayang.
Suaramu sendu, wajahmu suram.
Ingin ku membelaimu dan memelukmu.
Redakanlah resahmu.
Sayang..
Maafkan ku tak berada di sampingmu.
Ingin kureda resah itu,
ingin ku ringankan bebanmu.
Ingin kulerai air matamu.
Sayang...
Menangislah disisiku, ungkapkan gundahmu.
Ceritalah, andai ku dapat meredakan suram itu.
Ingin ku peluk dirimu, redakan resahmu.
Sayang...
Ingin kubantu dirimu
Kuringankan bebanmu
Kubantu hasratmu
Ingin kubuat dirimu bahagia
kuisi harimu dengan warna
Tak tega ku melihatmu menderita
Semoga kita segera bersama
Berderai dingin embun pagi, ketika kusapa bintang yang kelelahan. Berluruh hawa dingin, dalam semangat penuh tantangan. Mendekapku dalam angan dan bayangan. Tuk temani keganasan hari dengan penuh perasaan. Bersamamu sayang, memastikan penuhi kebahagiaan.
Sayang.. Dahulu, Maafkan aku tak bersamamu. Maafkan aku yang telah melupakanmu. Dan maafkan aku yang tak menemuimu. Namun bayanganmu tetap melekat, ingatanku tak akan lenyap. Dan harapanku tetap erat. Bersamamu, kini dan nanti. Esok kan kujelang, impian kan kupersembahkan. Kan ku lihatkan, bahwa rasa ini bukanlah lamunan. Namun harapan menuju kenyataan.
Kasih, bergembiralah dan senyumlah. Walau raga tak bersua, hati telah ku jumpa. Beribu doa kulantunkan, tuk perkuat harapan akan kesetiaan. Untukmu kasih, yang kini belum dapat kuraih.
Hatiku perih sayang, ketika kulihat kenyataan jalang. Hatiku terkoyak dinda, walau beribu tantangan kan kuhadang. Ku bersalah, kini ku berpasrah. Pada Sang Pemilik Kasih segala doa kuserah.

Malam ini begitu istimewa. Aku pandangi wajahmu disudut ceritaku. Sayang, engkau berbisik dalam kesunyian malam. Membawaku ke dalam alam lamunan. Walau dingin, angin malam menusukku dengan kaku. Tak inginku beranjak, memilihku membatu. Walau bukan raga yang nyata tercipta, bersyukurku cintamu membangkitkanku. Oh kasih, hatiku telah terpaku kepadamu. Pikiranku telah tertawan dalam anganmu.
Saat kupandangi awan di langit kelam. Secercah bintang membelah dengan mesra. Kunikmati malam ini bersama bayangmu kasih. Walau kau tiada, sukmamu tetap bersamaku. Di keheningan malam ini pula, hewan malam berteriak bersahutan. Seolah memberikanku semangat, memberikanku harapan. Bahwa suatu saat kita kan bersama.
Kuhaturkan nafas ini sebagai bukti. Kupersembahkan raga ini tuk keabadian abadi. Jiwaku telah tertawan, dalam lubuk hatimu yang paling dalam. Oh kasih.. kurasakan pula hatimu pedih. Percayalah bahwa hatiku telah menjadi milikmu. Yakinilah, esok kan kita jelang selalu. Demi masa depan bersama.. Kau dan aku.

Kasih.. usahkah kau ragu, ku kan selalu untukmu.
Kasih.. usahkah kau ragu, ku kan selalu menantimu
Kasih.. usahkah kau bimbang, hanya kau pilihanku seorang
Kasih.. usahkah kau goyang, segera ku kan kupinang.
Berpuluh hari kan kembali kutapaki
Berdawai detik kan kunikmati
Hanya untukmu, arah semua penantian
Obat penawar segala kegelisahan
Cinta... Jangan kau tanyakan kenapa
Karena rasa ini dari sang pemilik Jiwa
Sayang.. Sudikah kau paksa dunia
Arungi surga bersama sang pemuja
Beribu onak telah kulalui,
Berjuta harapan kembali kuraih
Tuhan Telah tuliskan untuk kita
Saatnya kelak kita kan bersama
Kupilih bukit terjal demi hasrat bersamamu
Kutantang dunia tuk meraih surga
Kan kupersembahkan kepadamu
Oh... Sutra sang harapan jiwa
Kemarin, kini dan nanti
Kan kulukiskan dunia dengan pena warna
Bersama harapan dan biduk hati
Menanti kembali mimpi yang kita janji
Lelah
03.06
| Author:
Unknown

Malam ini... mataku tak bisa terlelap. Pikiranku melayang layang. Kulamunkan sebuah hasrat yang menggebu. Kubutuhkan dirimu kasih. Beban berat ini, tak mampu kupikul sendiri. Ujian ini membuat ku merasa membutuhkanmu. Cobaan ini kan menjadikan kita bersatu. Sayang, kau bukan milikku.
Malam ini... udara dingin menusuk kalbu, semburat cahaya terlintas di langit kelam. Kuyakin Tuhan kan kirimkan jalan, agar kita bersatu. Bersama, gapai surga tercinta. Hasratku ingin menjemputmu, dalam peraduan malan. Dalam kesendirian, kuyakin Tuhan takkan diam. Ia telah takdirkan garis kehidupan. Pun ketika cinta bangkitkan kenangan.
Tuhan pula yang hilangkan, demi cinta yang menggelora. Saatku kehilanganmu, saat ku terpaku. Cita tidak bersambut mesra, hanya untaian doa saat kupinta.Tuhan kini telah bangkitkan diri, demi cinta yang sejati. Kini, dan nanti...
Sepi
23.33
| Author:
Unknown

Malam ini begitu sepi. Tanpa bayangmu tanpa cerita hati. Kembali tergores luka yang masih perih. Saat rinduku memuncak bersama bayangmu. Kupandang dengan pilu dan sendu. Hatiku kembali beku ketika angkasa campakkan jiwa. Ku tak dapat meraih bayangmu tanpa ujian raga. Ku sadari gejolak ini tiada arah tertumpah .
Kemanakah kuadukan rinduku ini. Kemanakah kubasuhkan luka perih. Kemanakah kuhapus air mata suci. Bersamamu di ujung jiwa. Malam ini, Rembulan tak mampu membuatku tersenyum. Lintang gemerlap tak goyahkan angan di dada. Tiup lembut dingin malam tak lagi semerbak harum sukma. Tanpa bayangmu dalam jiwa yang terang dan nyata. Beranda yang dingin mencekam. Saat kabar datang bersama sang pemuja. Lirih kuterpaku hanya pandangi bayang. Akan kah kau bahagia bersama si ilalang.
Malam ini terasa lambat, ketika bait rindu tak mampu lukiskan apa yang ada di dada. Jemariku kaku tanpa semangat, saat ingin ku goreskan rasa sepi yang memuncak didalam dada. Oh cinta yang berhujung duka. Kupasrahkan kepada Sang Pemilik Cinta, sampaikan salamku dalam mimpinya.
Kawan, tahukan engkau makna kehidupan. Ternyata didalamnya
ada rahasia yang kan
menjadi kejutan. Ada
pula rasa haru rindu dalam penantian. Hanya Tuhan yang kan
mengerti, apa yang kan
terjadi. Seperti diriku yang tak pula kutahu. Apa dan bagaimana Ia
menjadikannya lupa. Pun akhirnya dikembalikannya juga.
Aku pun tak tahu, ketika cinta pernah tercampak. Kini
kembali berujung, bagai mega yg manis berarak. Mungkin dulu, ia membenciku.
Kini cinta telah tumbuh bersemi kembali. Dahulu, rasa sakit penuhi hati, kini
hati tertakluk karena rindu.
Sudut derita walau kembali terkoyak. Kenangan suram walau
kembali berjelang. Sakit didada walau kembali terasa. Namun harapan mampu
kalahkan segala. Demi cita yang tercipta.
Hanya waktu yg kini diam membisu. Ia putarkan harapan dan
kenangan. Sampai ujung senja dan masa, penuh rasa dan cita. Dalam sebuah bait
penantian, ku sandarkan sebuah harapan. Tuhan… bimbing aku dalam perjalanan.
19/09/12 11:45 WIB
Ketika flamboyan tak lagi bertiup, awan mega kembali berarak. Menegadahku dalam harapan. Dalam Haru biru nan dicinta. Oh dinda yang bersemi dihujung hari. Kuhaturkan segelas rindu pada sang pemilik cinta. Ku lukiskan hasrat yang lama bersemi. Menanti penuh sepi dalam irama sunyi. Angin yg berhembus dengan lancang. Kepadamulah ku sandarkan harapan depan. Akankah terulang kembali sepi… Sunyi…
Ku tak ingat sebait kisah kelam. Hingga kau lantunan sebuah irama. Ku tak mengerti nada cinta suram, hingga kau hidupkan kembali harapan. Oh irama yang berdawai panjang, oh sinar yang berjalan temaram. Dalam keharuan kembali kurangkai nada nada kehidupan. Walau tak berbekas, esok pasti kan kembali kutapaki.
Bait rindu ini sungguh lucu, haru biruku tlah bercampur rindu. Dalam masa yang semoga tak panjang, ku bangkitkan angan melayang. Derap semangat kulambaikan kepada Tuhan. Ku ingin menggapainya Tuhan. Dalam kehidupan kembali ku jalin kesetiaan.
19/09/12 10:35 WIB
Aneh
22.17
| Author:
Unknown

Perasaan ini senantiasa berkecamuk. Bagai ombang yang berderai riuh di ujung pantai. Menghempas segala yg ada, mencampurkan segala yg dibawa. Oh Tuhan, ia hempaskanku ke dalam sebuah lamunan. Ditemani oleh semilir angin malam di pantai malam itu. Sendiri, ku maki nasib yang tar tertuju.
Perasaan ini sungguh aneh. Kumencintai orang yang salah, meski ku tak akan menyerah untuk sebuah pengorbanan, biarlah dunia menjadi saksi. Engkau jadikan aku sibuk menanti. Oh bintang, yang berkerlip jauh di dekat nirwana. Ia bagaikan bintang yang indah, namun tak kuasa ku rengkuh dalam bait cinta sebenarnya.
Aku hanyalah sebutir pasir di tengah lautan. Terombang ambing oleh derai perasaan. Berkecamuk dalam setiap keadaan. Kan kumaki engkau kasih, dengan sebuah bait harapan. Kan kuhina engkau kasih, telah merenggutku dalam setiap keadaan. Kupaksakan diriku membencimu dalam arus percintaan. Namun kutak bisa...
Perasaan ini sungguh menyiksaku. Saat kau buka kembali tabir kelam di masa silam. Terantuk dalam sebuah bayangan kelam. Memudar, perlahan menggapai sinar temeram. Oh dinda, kekasih yang tak bisa kumiliki. Bagimulah kuwujudkan kehidupan ini. Bagimulah kuharapkan senyumanmu saat kuhabiskan hari. Merengkuhmu dalam mimpi, memelukmu dalam angan abadi.

Malam ini kutemani kau mengadu.
kau rasakan sakit, ku rasakan perih.
Malam ini kutemani kau merintih,
ku rasakan sedih, sesak nan membuncak.
Oh dinda...
Cinta ini terlarang, dan ku jadikannya segala temaram.
Surya tidak lagi bersinar, bulan malu dalam peraduan.
Kutempuh jalan itu, tuk memastikan kau bahagia.
Waktu kan kubelah, dunia kan ku pecah.
Demi penantianku, di ujung waktu. Kan kukatakan pada dunia.
Kubersalah kepadanya,

Kekuatan cinta memang luar biasa, sanggup untuk meluruhkan hati pujangga. Menjadikan pena dan kertas tak lagi mampu unkapkan rasa. Sejuta warna mampu pudarkan warna surya. Matahari menjadi gelap dan dingin, sedingin rasa dan cinta yang menunggu. Sedingin embun pagi yang berharap sebuah kabar dari angin.
Oh bulan nan elok, yang senantiasa menjadi inspirasi pujangga. Kali ini, cahayamu telah padam. Pesonamu telah musnah dari hatiku. Kini, kau bagaikan tanah seonggok tak berarti. Hanya ditemai bulan yang bersinar temaram yang diam membisu.
Oh Tuhan, engkaulah saksi dari keajaibanMu. Dengannya air telah menjadi api, dan manusia bisa melayang ke angkasa. Dengannya pula, seorang pejuang menjadi lembut, dan seorang wania menjadi garang. Terkutuklah para pemuja yang tiada mengerti. Alunan melodi hidup yang mampu merubah segalanya.

Usah kau khawatir tentang duniamu, kan kutunggu di ujung masa.
Usah kau bingung tentang nasibmu, kan ku persembahkan nyawa.
Usah kau bingung cintamu, kan tlah labuhkan rasa.
Hingga ku sulit mengatakan mencintaimu
Saat kau katakan dunia, ku katakan kematian.
Saat kau katakan harta, ku katakan peperangan.
ku tak berikan dunia kepadamu, kan kubelah dunia untukmu.
Hingga ku sulit merasakan cintamu
Dinda... di penghujung senja,
Hapuslah air matamu, karena esok kan berjelang.
Tegakkan kepalamu, karena matahari kan bersinar terang.
Kibarkan sayapmu, karena angin bersepoi riang.
Hapuslah.. karena ku disampingmu.
Jari jemari telah terantup, kidung doa tlah terucap.
Hanya Tuhan gerakkan harapan nan berderap.
Ia tlah haturkan deburan nan indah
untuk ukirkan sejarah terindah.
Kasih... masihkah kau ragu
bahwa hanya satu cinta tercipta
untuk mu, Tuhan, dan keajaiban rasa
dalam sebuah untaian tertuju

Pagi cinta...
Kuhaturkan semangat ini padamu, seseorang yang telah melabuhkan hatinya.
Kuhaturkan salam ini juwitaku, seseorang yang membagi cinta.
Kuhaturkan rindu ini permata hatiku, kepada jiwa yg gelisah asmara.
Kepadamu kubuka semangat baru, kepada hati yg menunggu.
Wahai Cinta yang tertunda...
Pastikan dirimu bahagia, walau ku tak berada disisimu.
Pastikan wajahmu bercahaya, walau kau bukan milikku.
Hanya seuntai doa kuhaturkan demi keabadian
walau waktu kan menjadi taruhan
Demi Cinta yang terhalang...
Inginku melihatmu bahagia selamanya.
Dambaku dalam elok nafas surga
Walau dunia bukan milik kita.
Wahai butiran embun yang segar...
Basuhkan ku dalam keharuaan Sang Penyayang
Rengkuh ku dalam munajat kedamaian
Kesendirian kekhusyukan dalam sebuah cerita
penantian....

Cerita itu tiada berkesudah
Menggantungkan sebuah asa besar tak berujung
Melantunkan sebuah sajak tanpa melodi riung
Tanpa arah dan tanpa jejak
Diam membisu, bergerak dan mematung
Ku bagai tanpa arah, dan mata
Bergerak terombang ambing hanya menapaki angin
Terbuai dalam sebuah perjalanan tanpa makna
Kini pula cerita itu tiada berkesudah
Seperti bait sebelumnya yang hilang musnah
Kini penghujung critapun menjadi resah
Menyisakan galau tak bercelah
Kasih... ijinku memanggilmu kasih
Untaian terakhir kan kupersembahkan
Jemari terakhir kan ku haturkan
pada saatnyananti, jikalau berjelang

Tak usah ragu.
Ku bukan siapa-siapa
sejenak langit membiru,
sepintas flamboyan ungu menerpa.
Walau itu hanya sesaat,
namun tak perlu kau pikirkan lagi.
Badai akan meluruh berlalu.
Saat itu bayanganmu akan hilang seperti biasa.
Tuhan kan cabut kembali apa yang ada.
Sepintas kan kutitipkan asa kepadaNya.
Ku akan bahagia bila melihat kau bahagia.
Terima kasih atas segalanya.
Ku akan bahagia melihatmu bersujud dan bersyukur.
Ku akan bahagia atas segala kenangan di masa lalu.
Tak usah ragu.
Terima kasih telah mengenalmu.
Terima kasih telah bersua di hatiku.
Sungguh, guratan luka kini terasa indah.
Guratan perih menjadi cerita indah nan lirih.
Antara aku, Tuhan, dan semesta....

Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku dunia.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku lara.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku cita.
Oh Tuhan..Apa salah hamba, ketika Kau berikan aku warna.
Oh Tuhan.
Kembali Kau buka mimpi ini
Kembali Kau toreh luka ini
Kembali Kau gocang jiwa ini
dalam sebuah untaian resah dan bingung.
Tak sanggup ku Tuhan .
untuk menolak cita yang Kau tebar.
untuk menghapus mimpi yang Kau buka lebar.
Kenapa kau buka luka itu, kenapa kau cabik lagi perasaanku.
Bila kau tak sanggup untuk berkata jujur.
Bila kau tak sanggup untuk bersikap.
Bila kau tak sanggup untuk memilih.
Mimpi
05.43
| Author:
Unknown

Ada satu cerita tentang sebuah mimpi. Mimpi itu pernah sirnah, dan kini
kembali muncul. Namun, ada tembok besar yang menjadi penghalang. Dan ada
sebuah luka yang kian menganga. Kini pilihannya cuman satu, mengubur
mimpi itu dan membiarkan luka itu sembuh. Atau menggapai mimpi itu, dan
menorehkan sebuah luka baru di jalan yang baru.
Oh Tuhan, sungguh ku tak mengerti arah jalan ini. Atau pun ku tak
sanggup memilih diantara pilihan itu. Namun, kan kupilih luka yang tetap
menganga, dan mati sebagai pejuang cita. Biarlah luka itu membusuk,
memakanku, dan merenggutku. Hingga akhirnya mampu kuraih cita-cita itu.
Biarlah perih itu menusuk, menerkam, dan mencabik. Hingga kugapai mimpi
itu kembali.
Oh Tuhan, sungguh aneh rangkaian onak jiwa ini. Sungguh jalanmu elok nan
berliku. Tiada kini yang ingin kudamba, hanya sebuah pertolongan Sang
Maha Kuasa. Oh Tuhan, rengkuhku dalam keselamatanMu. Basuhku dalam
rahmatMu, dan kasihanilah aku dalam meraih mimpi itu.

Biduk ini kembali terombang ambing di tengah samudra. Padahal telah
kubuang sauh di tengah lautan. Telah pula kubuang beberapa beban. Namun
ternyata, malah menjadikan bidukku ini ringan tertepa. Bagai buih yang
terhanyut, bagai bulu yang tertiup. Oh tuhan, masih jauhkah perjalanan
ke daratan. Oh Tuhan, masih lamakah badai ini berjelang.
Dalam sebuah waktu, terkadang beban biduk diperlukan untuk menjadikannya
rata mengarungi lautan. Dalam sebuah waktu pula, terkadang beban harus
dilabuhkan agar menjadikannya cepat mencapai tepian. Dalam sebuah waktu
pula, banyak diantara kita tiada faham bahwa inilah perjalanan tanpa
tepian. Aku, kami, engkau, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Oh Tuhan, bidukku ini kembali tertiup topan. Kembali terseret arus,
tergerus perlahan oleh ombak yang ganas. Tubuh ini sudah renta tuhan.
Pikiran ini telah berkecamuk, masihkah engkau tambahkan beban dalam
bidukku. Namun kuyakin padamu Tuhan, biduk ini suatu saat kan berjelang.
Bersandar kearah labuhan yang tenang.
Sekelumit bayangan mengoncang bidukku, melukis kembali masa silam yang
keras. Meggores kembali duka dan luka lara. Menggoyang ketenangan jiwa
dan pemikian. Kini bayangan hadir tersebut telah kembali bersua dalam
sebuah lantunan episode yang tiada berkesudah. Oh Tuhan. Dulu kau hadir
melukis warna dalam hidup yang penuh kehampaan...Namun sejenak hadirmu
hilang terbang bersama asah yang terlukis, tapi bayangmu takkan terhapus
dalam senyum dan tawa...Kini...kau kembali hadir, memberi warna baru
memuncakkan asah yang pernah ada. Apakah rencana-Mu yaa Robb atas
kami???

Awalnya kunikmati dunia ini.
Awalnya kurasakan air, kubasuh angin.
Berkelok setiap masa dalam sebuah perjumpaan,
Bergoyang sebuah biduk dalam kehidupan.
Meski akhirnya berhujung kepada samudera lepas
bersandar pada dermaga rasa.
Oh dunia, siapakah kamu...
Memporak porandakan hasrat dalam duka lalu
Mencabik tubuh dalam warna jingga ungu
Menoreh luka menyayat dalam kalbu
Jika kau pun tak pula menjawab sepoi itu
Jika kau pun tak usah hatur dalam rindu
Jika kau pun tak mudah lepaskan aku
Oh dunia, siapakah kamu...
Berani menghancurkan angan, mencederakan mimpi
Berani membelai biduk tanpa arahkan layar
Mengombang ambingkan bidukku dengan kegarangan
Oh dunia, siapakah kamu
Berani berucap, namun enggan berbuat
Berani bercita, namun enggan berkarya
Ku hanya mampu menunggu. Sikapmu

Kutertidur dalam sebuah buaian kehidupan. Pada saat kubuka sebuah
lembaran baru, tersirat sebuah bayangan di masa lalu. Ku tak tahu sapa
dan apa yang menjadi bayanganku di masa lalu. Sebuah memori tanpa
sengaja terkubur. Mungkin Tuhan kehendaki pada awalnya.Sebuah rencana
yang sampai kini pun tak kumengerti sepenuhnya apa yang menjadi
kuasaNya.
Di penghujung senja, sekelebat bayangan kembali muncul. Berbagai
gambaran dan warna di masa silam kembali menggelayuti membran otakku. Ia
menggelitikku dalam sebuah lamunan hampa yang masih belum kumengerti.
Ia menangis pun oleh sebuah cerita yang tak kufahami. Ia tertawa pun
oleh sebuah canda yang tak dapat kugapai.Oh Tuhan... Apa maunya kini.
Awal kuduga, ia ada cerita kepadaku. Awal kukira, ia menginginkan
sesuatu dariku. Awal kudepa, ada sesuatu yang menjadi hutangku. Ku
berusaha menebusnya, walau perih di hati kan membuncak di dada. Ku
berusaha tegar, walau hati ini kembali membuka warna merah kelam.
Tiada
05.40
| Author:
Unknown

Dulu kau tiada, sekarangpun sama.
Dulu kita tak ada, sekarangpun juga.
Dulu sebuah sajak yg kulantunkan berakhir.
Kinipun sajak itupun telah pula berakhir.
Rasa ini hanyalah sebuah buaian senja,
dikala tiada tetaplah menjadi sirna.
Dikala akhir, tetaplah menjadi tiada
Hanya satu yg tetap kan ada, janjiku padamu.
Adakah penggantimu, yang kini telah tiada.
Adakah ceritamu,yang kulantunkan dahulu
Adakah sajakmu, yang kan kunyanyikan esok.
Tiadalah penggantimu, dahulu. Kini, dan masa yg kan datang.