SULIT
22.23 | Author: Unknown
Sungguh mencintaimu terasa sulit. Bagaikan kisah berat yang terjerat
rumit. Angin sepoi yang kini berhembus dengan panas. Inginku tantang
dunia dengan tegas.

Oh cinta... Bila dunia halangi kita, kan kuruntuhkan ia dan menjadi
pilihannya. Kan kutantang dengan gagah gempita. Bagai ksatria yang
sambut cerita laga.

Mutiaraku... Sungguh tangisku akan kembali memecah dunia. Dunia kan
terancam oleh duka. Akan kutunggu berita dengan air mata. Akal dan
hatiku telah kuserahkan pada cinta. Ku akan bagai jiwa tak bersukma.

Oh cinta... Ijinkanku rengkuh sebuah crita. Yang kan kukenang dan
menjadi saksi nadi dunia. Bersamamu kukenang dan kurindukan jiwa.
Menjadi jawaban kembali saat kita bersua.
SEPI
20.32 | Author: Unknown
Duniaku terasa sepi, ketika tiada dirimu menemani hati. Dunia terasa
gelap, karena kata yang terucap silap. Dengan ujung cakrawala menyibak
derap. Semburat mega bersinar cemerlang. Sinari mutiaraku dengan
benderang.

Duniaku dalam paruh hari. Ketika kita bercanda dan bercerita.
Menjelang malam kan sirnakan masa. Menanti kembali hari dengan suka
dan cita. Menyambut pagi dengan sekuntum kata yang kugores dengan
rasa.

Memang aneh kurasa, bagai cinta separuh jiwa. Kuyakin kan genapkan
sukma. Tiada lagi hari yang menipu jiwa. Tiada lagi cinta berselimut
duka.

Cinta suci kan diridhoi. Tumbuh mekar dalam taman asmara hati. Bersatu
berpadu dalam nada melodi jiwa. Habiskan nafas dalam kebahagiaan
surga.
BIDADARI
23.42 | Author: Unknown

Tertumpuk segala rasa dan asa. Tertumpah segala angan dan cita. Diujung waktu yang telah kuselam selalu. Bersamamu kasih dalam penantian diri nan sejati. Inginku belai bayanganmu, walau terungkap segala gundah jiwa. Inginku peluk erat impianmu, janji, Dalam setiap pengabdian raga. Ketulusan cinta tlah gusarkan kabut senja. Kesucian jiwa tlah runtuhkan segala sesal nan dicipta.

Kasihku yang berbalut waktu, dalam penantian diri ku telah tata hati ini. Ku telah jalin sukma ini, dalam penantian diri yang kan berakhir hari. Menit dalam detik kujumpai dalam jalinan rindu yang sendu. Jam berdetak lambat, haripun bergoyang pelan. Ketika kumelihat rindu telah gemuruh di dada. Waktu yang kaburkan bayangmu, ketika ia cabut impian dalam kenestapaan cita.

Ketika ia guratkan ragu, siratkan bayangan abu. Antara cahaya dan kegelapan diri, tak sadari keadaan yang taklukkan pilu. Hatiku tergores saat itu, dan tuhanmu hilangkan impianku. Meski Ia tanamkan rindu yang selalu bergelayut di qalbu. Yang terbuka saatnya, ketika kau siap nyatakan cinta. Karena cinta yang tertawan waktu.

Tuhan.. ijinkan kami bersatu lagi, ijinkan ku tebus rindu ini. Ijinkan ku basuh luka ini. Bersama bidadari yang telah yakinkan hati. Ia tersenyum, begitu cantik dan rupawan diri. Ia gemulai, begitu indah dan hasratkan hati. Demi cinta kepadaMu Tuhan, inilah bidadariMu untukku. Yang telah kupilih semenjak waktu lalu.
CEMBURU
18.54 | Author: Unknown

Terkadang ku tak mengerti, kenapa rasa cemburu ini senantiasa gelayuti diri. Terkadang ku bingung sendu. Meski kau bukan milikku. Namun ku tetap setiap menantimu. Terkadang ku terheran, dengan sikap dan rasa cinta yang bersemi pun dalam penantian. Oh cinta yang menyiksaku dalam kesunyian dan perasaan. Roman telah berdayung pelan menuju harapan. Ayunku setia dalam biduk penantian. Ingin gapai tanganmu kasih dengan penuh kehangatan.

Kau bukan milikku, meski hatiku telah tertambat selalu. Tersandera oleh perasaan di awal waktu. Tergadaikan oleh waktu di ujung rindu. Terbuai oleh dunia yang menyilaukan qalbu. Demi cinta yang tergadaikan. Hatiku perih, ketika mutiaraku berserakan dalam derai ombak yang menerpa terjang. Dalam badai yang mengombang ambingkan biduk dalam kenestapaan yang hilang.

Oh ilalang, yang telah menjadi saksi di sudut hati ini. Yang bergerak riang diantara debu keadilan. Yang bergerak diam dalam kenestapaan, yang kian menyiksaku dalam ketiadaan. Memilikimu walau hanya dalam bayang. Menggapaimu dalam impian. Memelukmu dalam nafas kesetiaan. Oh cinta yang terlarang. Karena cinta yang terbungkus impian.

Waktu yang tidak adil, dunia yang kupandang jahil, dan manusia yang guratkan takdir. Haruskah kubuktikan flamboyan yang bersemi sejati. Haruskah kutunjukkan warna jingga yang tutupi hari. Dalam melodi surya di ufuk angkasa. Menari berpadu dalam sebuah nada impian. Bersamamu kasih, suatu saat nanti.



DIAM DAN BEKU
20.17 | Author: Unknown

Ku terperanjak, ketika rasa itu terungkapkan. Ku terheran dan senang, ketika kau ungkapkan sayang. Sungguh, tak kusangka besarnya rasa dan cinta telah sekejap sembuhkan luka. Dalam irama mesra, dalam bait romantisme cinta. Waktu seolah terdiam dan beku. Saksikan cinta yang terukir bersama.

Kecup bibirmu, membuat duniaku beku. Peluk mesramu, hangatkan sukmaku. Dalam keabadian kenangan yang kan kukenang selamanya. Dalam bait cinta yang kita jalin bersama. Cintaku berbunga, dalam suasana dunia yang berkelabu jingga. Rasaku bersemi, dalam gemuruh badai yang menanti. Tuhan, ijinkan ku rengguk cintanya sekali lagi. Menanti dalam melodi sejati. Kan kuiringi dalam bait puisi yang kan cerahkan diri.

Hari itu, jiwaku terbakar. Dalam suasana cinta yang merona. Dalam sukma cahaya yang berjaya. Kepada siapakah kugantungkan segurat cinta. Bila bukan kepadamu cinta, yang telah kunanti dalam bait doa. Hari itu, ragaku bergetar. Kau tantang dunia dan korbankan dunia. Dalam suasana cinta yang tulus, dalam nada rasa yang halus.

Cinta, ku kan kembali berjumpa. Ijinkanku tebus segala luka. Ijinkan ku kecup tanganmu dengan mesra. Dalam maaf dan penyesalan. Inginku hanya sayangimu selamanya.
AIR MATA
20.01 | Author: Unknown

Hari ini sungguhlah berbeda, ketika kembali kita berjumpa. Merajut kasih di antara manusia. Hari ini inginku curahkan rasa, inginku teguhkan jiwa. Kepadamu mutiara, yang telah kupilih diantara dunia. Kan kubasuh dengan mata air suci cinta yang abadi.

Senyummu, tawamu, dan candamu tlah mencerahkan hariku. Kasihmu, sayangmu, dan cintamu mewarnai jiwaku. Dalam bait kesunyian ku telah temukan harapan yang telah lama sirna musnah diantara jiwa yang terluka. Senyumanmu, sungguh mampu leraikan lukaku. Ketika tangisku membasahi dunia karenamu kekasihku. Kasih, perasaan ini sama, dan kan selalu sama. Kan kujaga rasa dalam bait flora jingga. Kan kujaga cinta dalam deburan badai dunia. Selamanya, menggapai cita bersama.

Tiba-tiba. Hatiku terluka kasih, ketika kau ucapkan kata. Ketika kau ragukan jiwa. Ketika kau abaikan rasa. Luka yang sama yang telah tergores berada dalam masa silam yang mencoba sirna. Luka itu kembali menganga, dalam keraguanmu dalam besarnya cintaku. Kuyakin, kau akan mengerti, dan tuhan kan tunjukkan diri. Sesiapa yang ragu terhadap rasa ini.

Sore itu, sungguh kelabu. Tak inginku tinggalkan duniamu. Dalam rengguk kasih yang tercampakkan dengan nila yang setitik. Hari ini, kuseolah tak berarti. Rindu dan sayangku seolah tak menjadi saksi. Bila ku disisimu kasih, kan kubasuh kata itu. Kan kulipur lara itu. Dalam kesejukan pelukan hangat, dan kecupan mesra. Bersamamu naungi nirwana gelap gulita. Tuhan, ijinkan ku bersatu. Tuk basuh air mata itu...
SEBUAH HARI
19.19 | Author: Unknown

Kubercerita tentang sebuah hari dimana rasa benci dan duka merudung didalam hati. Kubercerita tentang sebuah sifat dimana keji dan benci merasuki di dalam dada ini. Kubercerita tentang sebuah rasa dimana rasa sayang menutupi benci dan duka. Itulah hari dimana kutunjukkan cinta dalam nada yang berbeda. Hari dimana, sayangku dan cintaku kepadamu jauh melebihi benci dan dendammu kepadaku. Karena ketulusan hati dan jiwa yang telah bersemayam didadaku.

Ku tunjukkan ketika engkau membenciku, rasa sayangku tidaklah berubah. Ku tunjukkan ketika rasa marahmu, rasa sayangku tidaklah berbeda. Ku ajarkan kepadamu cinta, hakikat ketulusan rasa dalam jiwa. Menjadikan cinta mampu menutupi segala luka, amarah dan duka. Ingin kureguk seluruh dukamu, lukamu, dan amarah di waktu itu.

Saat itulah, engkau akan mengerti hakikat cinta sebenarnya. Dimana pengabdian dan pelayanan menjadi dasarku untuk memahami jiwa. Dimana rasa sayang dan cinta telah menghujam didalam dada. Kemarin, saat ini, dan saatnya nanti kita kan berjua.

Kasih.. maafkan aku, ketika engkau tak memahami. Maafkan aku, ketika ku pilih cara ini. Karena mungkin dengan inilah kutunjukkan betapa besar rasaku kepadamu.
RENGKUH AROMAMU
04.34 | Author: Unknown

Hari ini badai menerpaku dengan begitu lembut. Suasana alam yang sejuk semerbak menampakkan dirinya setelah ia reda. Aku yakini suasana yang hangat setelah surya terpancar.. Yang begitu indah pada akhirnya. Oh Cinta yang senantiasa kurindukan. Kepada Tuhanlah kupasrahkan pengharapan. Oh Cinta yang senantiasa kujaga. Dalam relung sanubari hangatkan jiwa.

Cinta.. Betapa ingin kuberada disisimu, tumpahkan gundah dan resah. Inginku kan temani bersamamu, hilangkan susah dan amarah. Hanya kubisa belai bayangmu, kurengkuh aromamu yang masih terasa dan kujaga, dan ku kecup impianmu. Oh Cinta yang terhambat masa. Oh Cinta yang terbatasi suasana.

Ku berharap ini segera berakhir. Agar cinta kita dapat segera terukir. Jalani sisa hidup bersamamu. bersatu dalam sebuah suasana syahdu. Dalam keridhoannya kita bersatu padu. Oh Cinta.. yang kan kupupuk dalam kesetiaan. Yang kan kujaga dalam nafas kehidupan. Suatu saat kan kujelang, bersamamu kita kan arungi kehidupan terang.

Masih terasa kuat aroma tubuhmu, ketika kita bersua. Masih terasa kuat belaian tanganmu, ketika kita arungi bahagia. Walau sesaat, walau sekejap. Telah kuukir bayangmu kuat dalam hati yang kan terus melekat. Walau sementara, kuyakinkan ketulusan cintamu yang selama ini tertunda. Hingga sebuah kebahagiaan yang kan kita jelang bersama
SERAHKAN
23.48 | Author: Unknown

Usah kau khawatir, usah kau getir
Segalanya pasti akan berakhir
Yakinlah, suatu ketika kan berlalu juga
KepadaNyalah kita serahkan segala rupa

Mutiaraku...
Tetaplah cemerlang selalu
Tetaplah menjadi terbaik bagi duniamu
Ku akan pegang janji ini, sumpah ini, dan setia ini
Hingga ajal menanti kan kubina diri

Mutiaraku...
Inginkan ku, kau tersenyum
Iringi langkahku dalam semerbak harum
Ku akan kembali ke sisimu
Dalam masa yang kau tunggu

Mutiaraku...
Tetaplah mekar dalam kerinduan tuhan
Tetaplah bersemi dalam harmonisasi diri
Mewarnai hari dengan penuh semangat tinggi
Nantikan ku di sudut sunyi

Warna kembali bersemi di sudut hatiku
Tuk iringi langkah tuk jatikan diri
Melodi rindu tlah tapaki sendu dengan penuh haru
Ingin segera ku berteman hidupmu tuk satukan hati

Wahai Sang Pecinta sejati
Akhirilah ujian ini dengan kemuliaan suci
Perindahlah hidup ini dengan cinta hakiki
Selamatkanlah kami dari fitnah keji
Dalam semerbak mekar kasturi


MUTIARA CERAH
22.19 | Author: Unknown

Mutiaraku kembali berkilau cerah
Seusai semalam ku terbuai dalam resah
Mutiaraku telah mengungkapkan tujuannya
Tuk uji pemilik raga, jiwa kesetiaan

Oh cinta yang bergejolak
Seluruh hasrat tertumpah riak
Maafkan atas akalku yang memburu
...
Butakan cinta yang terpenuhi rindu

Mutiaraku benar telah terang bersinar
Kuyakin karena suara telah kudengar
Ia lamunkan cita yang bersejuk mega
Berharap Tuhan tuk tuntun bersama

Mutiaraku telah campakkan dunia
Menantiku dalam kesetiian nirwana
Mutiaraku telah tunjukkan cahaya
Dalam batas kerinduan yang memuncak rasa

Ia tenangkanku, dalam badai rindu
Ia belaiku, dalam ketulusan qalbu
Beriak ombak, pupus dalam kedamaian
Bergolak badai, sirna dalam keyakinan

Mutiaraku, maafkan aku yg salah menilai
Gemuruh badai telah jadikanku lalai
Ijinkan ku tapaki sumpah ini
Dalam biduk yang tetap kunanti

KISAH SEBUTIR MUTIARA
22.15 | Author: Unknown

Didunia ini, ada manusia yg diibaratkan bagaikan sebutir mutiara. Mutiara tetaplah mutiara, walau terendam di dalam lumpur hina dengan begitu lama. Mutiara itu menunggu tangan-tangan ajaib yang penuh keikhlasan dan ketulusan untuk mengangkatnya dari kubangan lumpur, dan mengusapnya, menggosoknya hingga menjadi mutiara yang bersinar cemerlang.

Di dunia ini pula, ada manusia ...
yg diibaratkan tangan ajaib yang menyelamatkan mutiara tersebut. Setelah mutiara itu terangkat, tangan ajaib itu akan mengusapnya dari segala lumpur yang melekat. Dengan sisa lumpur yang masih melekat sedikit di tangan. Perlahan muiara itu menjadi cemerlang. Meski tangan itu telah terbakar dan terhina dalam lumpur.

Namun, tangan itu mengangkat mutiara bukanlah untuk membuangnya. Atau mencampakkannya, atau menghinakannya. Namun mengangkatnya untuk disimpan dan dijaga. Diperlihatkan kepada dunia. Dan tangan itu mengetahui dengan yakin dan pasti sejak awal bahwa gumpalan yang terendam lumpur itu adalah mutiara.

Apakah tangan yang terendam lumpur akan disalahkan? ketika dia berkorban untuk selamatkan mutiara yang terendam itu...

Sungguh tangan yang terendam itu telah berjasa. Namun ia sekarang menjadi merana, terhina, dan tercela. Mutiara itu menyalahkan tangan yang terendam dalam lumpur dunia. Tanpa berusaha melihat jiwa dan raga pemilik tangan itu. Yang mengambil mutiara dari kubangan lumpur dengan tulus ikhlas dan penuh harap rasa.

Ketika manusia memandang gumpalan itu sebagai kotoran tak berharga. Jiwa itu melihatnya sebagai sebutir mutiara. Ia rela ulurkan tangannya ke dalam lumpur, dan mengambil dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah mutiara. Ternyata keyakinan itu benar... Mutiara itu telah fahami dirinya adalah mutiara. Bahkan mutiara terpilih yang terangkat dari lumpur. Namun...

Sungguh... Aku tak kuasa meneruskan kata-kata itu... Biarlah tangan itu terhina, hanya Tuhan Yang Ketahui segalanya.. Ia tulus ikhlas demi mutiara yang bersinar cemerlang. Namun kini mutiara itu tinggalkan jiwanya, belum terangkai menjadi untaian mutiara yang paling berharga di dunia. Manusia tidak akan pernah memaki mutiara yang telah tumbuh cemerlang. Namun akan melihat betapa hina tangan yang telah ternodai lumpur dunia.

Jiwa itu cuma berharap dan yakin. Gumpalan itu tidak hanya menjadi mutiara yang bersinar. Namun akan terangkai dalam untaian kalung kehidupan yang terindah yang pernah ada.

Suatu saat, mutiara itu akan mengerti... bahwa pemilik jiwa dan raga telah berkorban. Telah kehilangan tangannya hanya untuk menyelamatkan sebutir mutiara yang terendam...Tangan itu tidak mungkin dapat ia kembalikan. Karena ia telah rusak dan binasa. Jiwa itu akan bahagia bila mutiara itu telah sadari jatidirinya.
KELABU
22.12 | Author: Unknown

Malam ini udara dingin menusuk bertalu-talu
Malamku kelabu tiada sapa tersisa sendu
Kembali kau tinggalkan aku
Seperti irama syahdu beberapa tahun lalu

Hati remuk terperih pedih
Namun ku akan tetap menunggumu kasih
Ku akan tegar bersikap memandang dunia
Nantikan engkau di ujung masa

Seperti tersirat dalam mimpimu
Ku akan tersenyum memandang rindu
Di kejauhan pastikan kau bahagia
Kan ku kubur kenangan bersama

Ijinkanku tetap menunggu
Ijinkanku tetap mencintaimu
Ijinkanku melihatmu bahagia
kembali kau tidak disisiku

Oh cinta yang pedih
ketika patah kembali terukir perih
Oh rindu yang terpatri
Hidupku kembali sirnakan melodi
KU TERLALU MENCINTAIMU
19.28 | Author: Unknown

Maafkan cinta, ku terlalu mencintaimu.
Hari ini entah kenapa, hariku dirudung duka. Mungkin karena rasa yang telah memuncak didada. Atau karena ada yang tidak menginginkan kita bersama. Ataupun karena hariku kembali sepi tanpa kekasih jiwa. Oh Cinta, ku akan menunggumu. Dengan perlahan dan terseok, dalam peraduan perih dan pedih. Ku akan menjagamu. Dengan berlalu dan berliku, dalam pengembaraan jiwa nan istimewa. Oh cinta. yang membuatku terpaku dalam hidup dan kenikmatan rasa.

Sungguh tak inginku meninggalkanmu. Walau badai berjelang, walau mentari tak bersinar. Ku akan menjagamu selalu. Bukanlah kecantikan yang semu yang terlukis dalam bait dunia. Ataupun kelembutan ragu yang terpancar dalam nada fana. Ku hanya mencari hati yang telah tercuri dalam kenangan lalu yang menyapaku kembali.

Tersayat hatiku dalam kebekuan haru biru. Tergores rasaku dalam keperihan sendu. Demi Cinta yang menggelora. Ku rasakan jiwa ini risau dan galau. Ketika kita tiada bersama. Ku rasakan cinta ini lenyap, ketika kita tiada bersua. Oh cinta, yang kembali terhujam. Teringatkanku kepada tujuan. Terbayangku kepada lamunan. Demi cinta yang abadi.

Beribu jalan telah kita lewati. Beribu impian telah kudaki kembali. Tak inginku melihat engkau menderita cinta bersama jiwa yang mencintai dunia. Tak inginku melihat engkau bahagia, dalam kesemuan sementara. Ketika dunia telah ku gadai, dalam seonggok harapan masa depan di nirwana yang kekal selamanya.
SUDUT DUNIA
23.23 | Author: Unknown

Senyum bahagia kulihat pada harimu, seiring dengan gemuruh hujan yang membasahi bumi. Kuhaturkan sebuah kalimat rindu yang bertalu di akhir surya. Bertabuhku untuk iringi kebahagianmu. Oh cinta yang menggoda gelora. Berserak hati disaat duka dilipat senja. Hati kita kini berpadu lembut nan syahdu. Jelang esok bersama meniti relung jiwa.

Kasih, tunggu aku disudut dunia. Ketika warna kuukirkan dalam gurat dada. Dalam keabadian sukma di puncak semesta. Bagai mega di ufuk senja, kan kujadikan harimu bahagia. Duhai mutiaraku yang bersinar cemerlang. Tetaplah bersinar, hingga matahari terbit dengan gemilang. Tetaplah bercahaya, disaat manusia bersuka riang. Kepadamu kekasih.. Kan kujaga perasaan ini, walau risau dan galau kuasai diri. Yakinku bahwa rasa kini telah membumbug abadi.

Mutiaraku.. inginku peluk dirimu. Dalam dinginnya udara malam yang bersayup merdu. Saat mesra yang tak kan bertahan lama. Menanti dirimu disisiku cinta. Bersatu raga kita, bergandeng asmara senja. Di ufuk penantian, ku kan bertahan demi sebuah keabadian cinta dan rasa.

Kubayangkan kupeluk dirimu dalam keabadian. Temanimu dalam ikatan penuh kasih sayang. Jelang malam bersama, dalam biduk suka cita. Jalin jemari bersama lantunan simfoni hati. Dalam biduk cinta kita kan memadu hari. Dalam denyut jiwa, kita kan tuntaskan rasa. Oh cinta yang menggelora, jadikanku bergelayut rindu tanpa ujung cerita. Oh rindu yang menggoda, inginku tumpahkan rasa bersama.

Kekasihku.. temani aku malam ini. Halau risau, singkirkan galau. Sesak menyelimuti hati nurani, tanpa kehadiranmu rindu. Rasa ini menyiksaku malam ini, kungin peluk dirimu dalam keabadian. Pasrah bernafaskan asmara menggema di dada. Tak inginku lepas dirimu, walau dalam mimpi.
GADAIKAN CINTA
23.07 | Author: Unknown

Ketika kugadaikan cinta. ditiap penghujung hari, ingin kutemani mutiara dalam kepenatan raga. Ingin kubasuh pikirmu dengan kehangatan sukma. Ingin kubelai tubuhmu dengan sentuhan rindu. Kasih, yang terpisahkan oleh jarak dan masa. Hingga dipenghujung senja, ingin kutapaki hariku bersamanya. Oh cinta yang terlarang... Hingga dimanakah ujung crita ini terangkai indah.Dalam bait yang ku tak ketahui di mana kan berakhir. Aku yakin Tuhan kan pilihkan jalan buat bersinar. Di akhir senja ku ucapkan cinta.

Wahai semesta yang mensiratkan rasa, kepada siapakah kuhaturkan rasa. Kepada siapakah kupasrahkan jiwa. Kepada siapakah kunanti jawabannya. Di ujung senja, kembali ku terpaku dalam sebuah harapan rindu. Dalam bait inilah ku menghba, kepada pemilik semesta.

Ingin kubisikkan kalimat rindu dalam setiap waktu. Di saat surya tenggelamkan raga. Di saat angin malam bertiup seram. Kan kujadikan cinta ini sebagai tebusan. Bagiku, dan cinta kita. Kuhaturkan pula setetes kehangatan rasa dan jiwa yang bersatu di alam biru. Kunantikan saat kau sedia. Bersatu padu, dalam sebuah janji abadi yang senantiasa kita nanti.

Esok pasti akan tiba cinta. Ketika rindu ini kupupuk dengan segala rasa. Ketika cinta ini kujaga selamanya. Untukmu cinta, muiaraku dunia. Bersinarlah cemerlang, gapailah harapan. Bersinarlah dalam cahaya iman, gapailah citamu dan tujuan.
MERINDUKANMU
22.59 | Author: Unknown

Ketika kau larang aku, merindukanmu.
Duniaku bergemuruh riuh berkelabu.
Ketika kau larang aku, menyapamu.
Duniaku runtuh warna menjadi sendu.

Wahai cinta yang kini bergelora.
Janganlah kau memintaku, untuk menjauhi raga dan jiwa.
Namun ku kan menjagamu, hingga sampai masa.
Demi cinta suci yang mengantarku dalam keabadian rasa
Disinilah kubersemayamkan jiwa rindu tuk bersua

Wahai rindu yang bergetar.
Warnai duniaku dengan suluk cinta segar
Warnai langitku dengan hakikat rindu terpancar
Dalam bidukku yang berlabuh dalam ruang samar
Bersamamu cinta, mutiara yang kan selalu bersinar

Cinta ini kuucapkan dari relung sanubari.
Kutapaki hari yang datang silih berganti
Menanti sebuah ketagasan jiwa dan hati
Tuk rengkuh kita bersama gapai cinta suci

Duhai Tuhan yang semayamkan cinta
Kau siksa aku dengan gejolak jiwa
Kan kujaga rindu asmara yang memuncak di dada
Hingga saatnya kau restui kami selamanya.


GELAYUT RINDU
19.50 | Author: Unknown

Rindu ini begitu bergelayut, laksana awan di ufuk cakrawala. Ketika kuucapkan kalimat perpisahan kepada kekasih hati. Tak inginku lepaskan pelukan itu. Hangat, terasa, memuncak dalam jiwa. Tulus dan suci nampakkan cinta yang abadi. Walau perih, kupasrahkan kepada Tuhan. Tuhan, ijinku rengkuh jiwa sucinya.

Ku kan menanti, esok kita kan berjumpa kembali. Dalam bait warna yang telah hasratkan asa. Kepada kekasih hati yang kusebut dalam tiap bait doa. Kita kan kembali bersua, kembali ukirkan warna dalam dunia. Wahai dunia, bersaksilah atas cinta kita. Menyerulah kepada Pemilik Cinta. Agar kita segera bersama, dalam ikatan suci yang didamba.

Ternyata, Tuhan masih inginkan kita bersama. Roda berjalan, ketika dunia tinggalkan kami berdua. Kembali kami tersenyum atas cinta ini. Tuhan masih inginkan kita bersama, walau sementara. Kan ku hantar cinta kembali bersama harapan semesta. Rengkuhku dalam kedua jemarinya, kita bersatu mainkan melodi irama. Dalam sepotong roti yang kan menjadi saksi. Ketulusan cintamu kan kujaga selalu.

Wahai pemilik Cinta, inginku habiskan hari bersamanya. Dalam hangat sepotong cinta, bersemaikan hujan yang membahana. Dingin ini tak terasa, ketika ku pandangi ketulusan jiwanya. Hujan ini hangat membara, ketika senyum lebar hiasi dunia. Kasih... hangatnya cintamu, membuat duniaku terpaku. Ingin ku bersamamu, abadi dalam setiap nafas rindu.
HARMONI
19.10 | Author: Unknown

Harmoni kan menjadi saksi
Ketika sepasang pecinta dirudung suka
Menapaki jalan ibukota ditengah duka
Dalam penantian kita kan selalu bersama

Oh jiwa yang kini bersemi kembali
Kepada jiwa yang kini kunanti
Yakinlah kupasti akan datang lagi
Mutiaraku bersinarlah dengan terang abadi

Tak kan ku biarkan mutiara redupkan cahaya
Tak kan ku biarkan jiwa hilangkan asmara
Kepada Sang Pemilik Cinta kupanjatkan doa
Semoga kita kan bersama segera

Wahai Jiwa pemberani...
Berkilaulah bersama mutiara hati
Bangkitlah dan serulah harapan dan impian jiwa
Menuju masa depan yang dicita

Jiwaku terkurung dalam bait rindu
Menanti kan irama sejati dalam harapan qalbu
Duniaku terpaku dalam cinta suci
Meniti jalan bersama kekasih hati
BELAI TANGAN
19.03 | Author: Unknown

Hari ini hariku bahagia
Bersama kekasih yang tercinta
Hari ini kubelai tanganmu dengan manja
ku haturkan cinta dengan ketulusan jiwa

Hari ini, langit menjadi saksi
ketika cinta kita bersemi kembali
Hari ini, kulabuhkan cinta suci
Kepada mutiaraku yang tlah berserah diri

Oh dinda, kunanti jawaban dunia
ketika dihadapkan kepada situasi yang lara
Oh Cinta, kumenanti keberanian jiwa
ketika dihadapkan kepada cita yang tertunda

Ketika waktu tak lagi berkompromi
Ketika dunia tak lagi tunjukkan jalan
Saat itulah ku akan datang dengan gagah berani
Kan kuterjang dan kulawan dengan kehadiran

Mutiaraku, penyejuk jiwa
rindu ini begitu bergelayut mesra
Menantiku dalam sebuah jawaban asmara
Dalam kepastian menanti bersama tuk berjumpa
PUNCAK
15.31 | Author: Unknown

Barisan pepohonan kan menjadi saksi
Udara dingin menyejukkan hati
Disaat kuhadirkan jiwa dalam bait suci
Bersamamu kekasih di ujung penantian hari

Kuyakin cinta ini tidak lah semu
Kuyakin cinta kita kan segera bersatu
Kuyakin segala aral kan kita seru
Berpadu dalam sebuah ikatan qalbu

Puncak... di awal pekan ini
beribu diam, namun kan menjadi saksi
Hamparan kesejukan, mewarnai hati
Kita berpadu dalam sebuah ikatan janji
TAK DAPAT TERPEJAM
15.10 | Author: Unknown

Malam ini mataku tak dapat terpejam
Kulamunkan sebuah harapan
Yang kujaga dalam keyakinan

Walau badan penat, pikirku terbang melayang berat
Walau jiwa berkecamuk remuk, hatiku erat dalam kerinduan.

Maafkan aku sayang, dalam tidurku, kuyakin impian kujelang.
Dalam hidupku, kan ku jaga semua harapan.
Cinta dan kasih yang dalam besar keyakinan.

Sayang, maafkan aku.
Tak dapat kuhidup tanpa senyuman, yang membuat hidupku bercahaya.
Tak dapat kubahagia tanpa canda tawa, yang kan membuat hidupku terwarna.
Cinta, diujung harapan.

Dalam kesetiaan, kujaga janji ini.
Dalam keabadian, kuyakin jalan ini.
Dalam harapan, kuyakin cinta ini.
Tak kan berdusta, di ujung masa.
Tak kan kuingkari, dalam cinta suci.

Maafkan aku, kutetap mencintaimu dalam kesetiaan.
Maafkan aku, cintaku tak kan pudarkan keyakinan.
Walau amarah, kukan basuh dengan ketulusan cinta.
Cinta dan harapan yang kin i tumbuh dalam nada keabadian.
GETAR JIWA
05.12 | Author: Unknown

Perih kurasakan dalam getar jiwa. Ketika sang surya belum nampakkan sinarnya. Mataku tak bisa terpejam teringat dengan lamunan. Kurasakan gundah, perih dan duka. Risaukan kepada pemilik cinta ada apa dengan dirinya. Ku pandangi jejak jiwa ini dalam setiap sudut-sudut jiwa. Ingin kulerai duka lara yang kian perih, menjerit, hingga ia berjalan tertatih. Namun ku tak kuasa, hanya bersenjatakan kata-kata. Lepaskanlah ia, tuk gapai kebahagiaannya.

Demi jiwa yang telah lara, demi kebahagiaannya yang kini sirna. Tak inginkah engkau melihatnya bahagia. Tak sudikah engkau memberikan hasratnya. Demi waktu yang senantiasa membisu. Terpaku, erat dalam relung kalbu. Ia menderita, demikian pula dengan jiwanya yang terluka.

Demi jiwa yang kian menderita. Tak inginku melihat air mata. Bergelayut di wajah sendu yang kian suram tiada cahaya. Tak sudiku melihat perih lirih di hatinya yang suci. Dunia tak pantas menjadikannya lara. Cinta tak semestinya menjadikannya menderita, terpaku dalam sudut waktu yang senantiasa membeku.

Wahai surya... Lepaskanlah ia menuju kebahagiannya. Sinarilah ia dengan kebahagiaan tuk hapus segala lara. Bersama bulan yang dapat menuntunnya, walau tertatih, lirih merengkuh di ujung masa. Walau perih, inilah jalan yang abadi menuju kebahagiaan sejati, bersama waktu yang kian menanti.

Wahai surya.. janganlah engkau membuatnya binasa. Dengan sinarmu yang seharusnya melindungi. Dengan cerahmu yang ternyata membakar diri yang suci. Tegaplah, dan tegaklah sebagai seorang perwira yang memberikan cinta kepada sang pemilik hati. Reduplah... dalam kedamaian senja di ufuk dunia.
LERAI LUKA
18.28 | Author: Unknown

Kurasakan rasa gundah itu, kurasakan rasa lelah itu.
Sendiri, ingin ku memaki diri ini.
Ingin kucabik waktu yang telah menghalangi.
Ingin kuremuk segala resah didada, tuk melihatmu bahagia selamanya.

Kasihku, inginku membelaimu tuk lerai luka dan hatimu.
Inginku angkat beban itu, tak inginku melihat engkau sedih dan perih.

Ijinkan ku rengkuh tanganmu, menghiba, dan berpasrah kepada Sang Pencipta.
Harapku lerai air matamu yang suci. Untuk hidupmu yang bahagia.

Kasih...
Tak ingin ku melihat engkau menangis.
Tangismu tak pantas menetesi dunia.
Karena dunia membutuhkan senyumanmu.
Karena engkaulah warna dari dunia.
Duniaku dan masa depan kita.

Kasih...
Senyumlah... Dan bersukalah...
Setiaku tuk menunggumu, menantimu, hingga tiba saatnya.
Inginku rengkuh, dan basuh segala gundah dan resah
Kasih... nantikanku dengan penuh suka cita.
HAWA SEJUK
16.59 | Author: Unknown

Hawa sejuk bertiup lembut. Ketika langit telah merekah merah. Ku katupkan tanganku tuk menghiba pasrah. Kepada Sang Pencipta ku berserah, segala doa harapanan yang kini bersambut. Kurasakan hawa itu begitu lembut menyapaku. Membangunkanku dalam tidur panjang yang memilukan qalbu. Kuhadirkan tiap mimpi diharibaan Tuhan. Kepadanyalah seluruh harapan dan tujuan.

Kupandangi petang ini, seberkas cahaya putih menggores mega. Secercah harapan nampak nyata dalam setiap cerita. Sebait cerita menuntunku dalam sebuah harapan senja. Bersama, menggapai nirwana dengan kekasih nan dicinta. Tiap harapan kan menuntut cita menuju keabadian kenyataan. Bagiku, hasratku, dan bayangku telah menggapai ujung senja. Citaku, harapanku, dan impianku telah mengguncang dunia.

Oh Cinta... kan kupersembahkan warna dalam setiap cerita. Kan kuukir cerita dalam setiap masa. Kan ku jelang masa dalam setiap cinta. Kepada cintalah kupesembahkan dunia. Bersamamu, Tuhan, dan cita-cita yang telah kuukir sejak pertama berjumpa. Kasihku... Ku telah kuatkan tekad, sambutlah tanganku.