Kubuka mataku, tergambar jelas bayangmu. Walau terasa jauh, kurasakan kehadiran dalam setiap nafasku. Aroma tubuhmu masih tercium harum, walau saat ini kita belum bersatu. Semua kan jadi saksi, saat kita memadu kasih dalam keramaian kota. Dalam kegemerlapan suasana, yang terwarna ketika kau hasratkan cinta. Dalam biduk ku terdiam...Kisah asmara yang berhujung kepada rindu yang merana. Saat kubuktikan cinta kepada nirwana dunia. Saat ku hasratkan rindu dalam warna qalbu. Ku mengadu, mengapa bukan saat itu kita bersatu. Oh cinta yang tertunda, yang berbataskan tembok rindu yang kian membahana. Kepada siapakah kuadukan cinta, ketika ku mengetahui arah muaranya. Kepada siapakah kualirkan rasa, ketika gejolak telah penuhi setiap air mata.
Ketika kau pelukku dengan nyata. Ku coba tumpahkan air mata. Dalam segala kerinduan, duka, dan suka. Dalam segala perasaan yang berujung kepada kesetiaan. Inilah diriku yang selalu menunggumu dibalik tembok batu. Yang kuukir namamu dalam hatiku. Walau pedih perih, kulakukan tuk tunjukkan kesetiaan perasaanku kepadamu. Demi cinta yang terluka, telah kau basuh dengan segala rasa dan asa. Kau singkirkan segala apa yang ditanya oleh dunia. Kini dan nanti dalam peraduan abadi dan cinta sejati. Demi cinta yang terlahirkan kembali, yang musnah hilang diterpa badai dan ilalang. Demi cinta yang terjerat oleh ruang dan waktu. Yang terbayang oleh mimpi buruk masa silam.




0 komentar: